Cari Blog Ini
Rabu, 08 Agustus 2012
PENGERTIAN AUTIS
PENGERTIAN AUTIS
Kata autis berasal dari bahasa Yunani “auto” berarti sendiri yang ditujukan pada seseorang yang menunjukkan gejala “hidup dalam dunianya sendiri”. Pada umumnya penderita autisma mengacuhkan suara, penglihatan ataupun kejadian yang melibatkan mereka. Jika ada reaksi biasanya reaksi ini tidak sesuai dengan situasi atau malahan tidak ada reaksi sama sekali. Mereka menghindari atau tidak berespon terhadap kontak sosial (pandangan mata, sentuhan kasih sayang, bermain dengan anak lain dan sebagainya).
Menurut American of Pediatrics, Committee on Children With Disabilities (2001) Autis adalah gangguan perkembangan pervasif pada anak yang ditandai dengan adanya gangguan dan keterlambatan dalam bidang kognitif, bahasa, perilaku, komunikasi dan interaksi sosial
PENYEBAB AUTIS
1. Kelainan pada lobus parietalis otaknya, sehingga cuek terhadap lingkungan
2. kelainan pada otak kecil dimana sel purkinye yang sangat sedikit sehingga terjadi gangguan keseimbangan serotonin dan dopamin
3. Gangguan daerah sistem limbik akibatnya gangguan fungsi kontrol terhadap agresi dan emosi9 dalam Hippocompus ini bertanggung jawab terhadap fungsi belajar dan daya ingat
4. Faktor genetika (kelainan kromosom)
5. Pemicu lain
a. Saat kehamilan trimester I mengalami keracunan obat, virus rubella, logam berat, pengawet, pewarna, jamu, pendarahan hebat, muntah-muntah hebat.
b. Proses kelahiran terlalu lama
c. Tumbuhnya jamur yang berlebihan di usus anak akibat pemakaian antibiotika yang berlebihan sehingga menyebabkan gangguan pencernaan kasein dan gluten.
DETEKSI DINI
Meskipun sulit namun tanda dan gejala autism sebenarnya sudah bisa diamati sejak dini bahkan sejak sebelum usia 6 bulan.
1. DETEKSI DINI SEJAK DALAM KANDUNGAN
Sampai sejauh ini dengan kemajuan tehnologi kesehatan di dunia masih juga belum mampu mendeteksi resiko autism sejak dalam kandungan. Terdapat beberapa pemeriksaan biomolekular pada janin bayi untuk mendeteksi autism sejak dini, namun pemeriksaan ini masih dalam batas kebutuhan untuk penelitian.
2. DETEKSI DINI SEJAK LAHIR HINGGA USIA 5 TAHUN
Autisma agak sulit di diagnosis pada usia bayi. Tetapi amatlah penting untuk mengetahui gejala dan tanda penyakit ini sejak dini karena penanganan yang lebih cepat akan memberikan hasil yang lebih baik. Beberapa pakar kesehatanpun meyakini bahwa merupahan hal yang utama bahwa semakin besar kemungkinan kemajuan dan perbaikan apabila kelainan pada anak ditemukan pada usia yang semakin muda
Ada beberapa gejala yang harus diwaspadai terlihat sejak bayi atau anak menurut usia :
USIA 0 – 6 BULAN
• Bayi tampak terlalu tenang ( jarang menangis)
• Terlalu sensitif, cepat terganggu/terusik
• Gerakan tangan dan kaki berlebihan terutama bila mandi
• Tidak “babbling”
• Tidak ditemukan senyum sosial diatas 10 minggu
• Tidak ada kontak mata diatas umur 3 bulan
• Perkembangan motor kasar/halus sering tampak normal
USIA 6 – 12 BULAN
• Bayi tampak terlalu tenang ( jarang menangis)
• Terlalu sensitif, cepat terganggu/terusik
• Gerakan tangan dan kaki berlebihan
• Sulit bila digendong
• Tidak “babbling”
• Menggigit tangan dan badan orang lain secara berlebihan
• Tidak ditemukan senyum sosial
• Tidak ada kontak mata
• Perkembangan motor kasar/halus sering tampak normal
USIA 6 – 12 BULAN
• Kaku bila digendong
• Tidak mau bermain permainan sederhana (ciluk ba, da-da)
• Tidak mengeluarkan kata
• Tidak tertarik pada boneka
• Memperhatikan tangannya sendiri
• Terdapat keterlambatan dalam perkembangan motor kasar/halus
USIA 2 – 3 TAHUN
• Tidak tertarik untuk bersosialisasi dengan anak lain
• Melihat orang sebagai “benda”
• Kontak mata terbatas
• Tertarik pada benda tertentu
• Kaku bila digendong
USIA 4 – 5 TAHUN
• Sering didapatkan ekolalia (membeo)
• Mengeluarkan suara yang aneh (nada tinggi atau datar)
• Marah bila rutinitas yang seharusnya berubah
• Menyakiti diri sendiri (membenturkan kepala)
• Temperamen tantrum atau agresif
INTERVENSI DINI ANAK AUTIS USIA SEBELUM 1 TAHUN
Anak Autis sebelum usia 1 tahun mengalami hambatan dalam hal: Pemahaman visual, imitasi motorik, menirukan suara, menirukan menyentuh bagian tubuh, menemukan mainan, mengikuti jejak dengan mata, mengambil kembali benda yang jatuh, pengertian auditori, bertepuk tangan, mengikuti perintah lisan koordinasi visual dan motorik.
MATERI INTERVENSI DINI
1. Kontak mata
Dampak : Pemahaman visual
Tujuan : Interaksi dengan orang lain melalui kontak mata
Sasaran : Kontak mata dengan orang lain
Alat peraga: Mainan atau makanan yang disukai anak
Ada beberapa tehnik kontak mata::
1) Halangi pandangan anak dengan wajah terapis agar terjadi kontak mata sambil mengatakan ” lihat”. Dilakukan ketika anak duduk atau berbaring. Kemungkinan anak akan memalingkan wajah, karena itu wajah terapis akan bergerak kesana kemari untuk menghalangi pandangan mata anak dan mengadakan kontak mata secara terus menerus.
2) Bangkitkan kontak mata anak dengan memberikan perintah”lihat” bersamaan dengan menempatkan benda yang menarik perhatiannya setinggi mata terapis. Pilih benda yang disukai anak, yang menarik perhatian atau benda yang diinginkan. Ambillah dengan cepat dan tempatkan setinggi mata anak. Atau jika anak senang makan maka pilih makanan. Biasanya anak akan melihat benda sebelum ia diperintah ”lihat”.
3) Dudukkan anak dibangku berhadapan dan sama tinggi dengan terapis, kemudian kedua sisi kepala/pipi anak dipegang oleh kedua tangan terapis secara erat. Terapis memberi instruksi ”lihat” begitu anak melihat sekilas ke terapis pegangan segera dilepaskan. Anak akan belajar bahwa pegangan erat pada kepala /pipi yang tidak menyenangkan baginya akan hilang jika dia memandang terapis.
4) Fiksasikan kepala anak (tetap pada posisinya) kemudian wajah terapis bergerak kesana kemari sesuai arah pandangan anak, sambil berkata lihat” sehingga menghalangi pandangan mata anak, dengan tujuan terjadi kontak mata terus menerus antara anak dengan terapis.
5) Ucapkan instruksi ”lihat” setiap 5-10 detik. Berikan hadiah pada anak seperti makanan, minuman, mainan dan pujian jika ia memandang terapis paling tidak selama satu detik dan memandang dua detik setelah instruksi diberikan. Jika anak tidak memandang ke terapis dalam tempo dua detik setelah instruksi. Terapis menoleh ke arah lain sekitar 5 detik, kemudian ulangi lagi dengan memberikan pancingan menggunakan benda-benda tadi.
2. Menirukan “ Memukul”
Dampak : Imitasi motorik, aktifitas menggenggam, pemahaman visual
Tujuan : Belajar menirukan penggunaan barang
Sasaran : Menirukan pola pukulan dengan sendok
Alat peraga: 2 buah sendok dan panci
Prosedur :
a) Dudukkan anak dipangkuan anda menghadap meja dan tarik perhatiannya dengan melambaikan sendok di adapan pandangannya.
b) Pukulkan sendok ditangan anda ke meja dengan pukulan berirama
c) Lakukan prompt penuh pada anak dengan tangan anda yang lain untuk menirukan gerakan tangan anda yang pertama dengan irama yang sama
d) Lambat laun kurangi prompt sambil melihat apakah anak mampu meneruskan aktifitas tersebut tanpa bantuan anda
e) Bila dia dapat melakukan tanpa prompt pindahkan contoh anda dengan memukul panic
f) Lakukakan prompt bila anak belum mampu melakukan
g) Lakukan terus menerus sampai anak mahir memukul meja dan panic secara bergantian
3. Memberikan contoh suara untuk ditirukan
Dampak : Menirukan suara (vokalisasi), reseptif, kognitif verbal, pengaruh timbale balik social dan individual
Tujuan : Untuk mendorong kemampuan menirukan suara
Sasaran : Untuk memberikan pengucapan bunyi yang cukup tepat yang berhubungan dengan aktivitas fisik sehari-hari
Alat peraga : Tak ada Prosedur
a) Duduklah di kursi dengan anak di pangkuan anda
b) Lambungkan dia di lutut anda 4 kali, sambil berkata bum, bum, bum, bum.
c) Lalu ayunkan dia ke bawah (kearah lantai)dan sesudah itu ayunkan dia ke atas, sambil berkata hiii”.
d) Setelah berkali –kali melakukan langkah awal ini, hentikan sebentar saat mengayun dia ke bawah. Perhatikan apa dia mengucapkan bunyi yang mirip “hiii”.
e) Kalau ya, ayun lagi kearah lantai, biarkan anak tahu dia harus mengucapkan bunyi itu sesudah anda mengucapkan bunyi itu lebih dahulu, dan kemudian sentuh bibirnya
f) Jika dia tidak memberikan respon seketika itu juga, ulangi aktifitas itu dari depan
g) Teruskanlah aktifitas itu dengan memberikan prompt dengan menyentuh bibir dan anda mengucapkan “hiii”
4. Menirukan perbuatan untuk menghasilkan suara
Dampak : Peniruan suara, peniruan gerak, kognitif verbal
Tujuan : Untuk mendorong kemampuan menirukan suaria dan meningkatkan perbuatan visual terhadap perbuatan dengan orang lain
Sasaran : Untuk menirukan bunyi yang terdiri dari suku kata yang dilakukan dengan aktifitas fisik yang sederhana.
Alat peraga : Tak ada
Prosedur :
a) Pilihlah salah satu aktivitas berikut ini
@ Meletakkan jari di bibir dan katakana “syyyy”
@ Menepuk mulut dengan lembut sambil mengeluarkan suara “ waaaaaa”
@ Menekan jari-jari ke bibir seperti orang mencium
@ Buatlah bunyi seperti letupan dengan menjentikkan sebuah jari pada pipi
b) Peragakan aktivitas tersebut dan lakukan prompt pada anak untuk menirukannya
c) Lambat laun kurangi prompt yang diberikan
d) Ulangi aktivitas sebelum beralih ke aktivitas yang lain
5. Menirukan menyentuh bagian-bagian tubuh
Dampak : Pemahaman visual, perpaduan mata dan tangan
Tujuan : Belajar mengamati orang dan menirukan perbuatan mereka
Sasaran : Menirukan menyentuh bagian tubuh
Alat peraga: Tak ada
Prosedur :
a) Duduklah berhadapan dengan anak menghadap meja
b) Tarik perhatian sehingga mau melakukan kontak mata
c) Katakan pegang hidung dengan memberikan contoh (model)
d) Jika tak ada respon, lakukan prompt penuh dan berikan imbalan
e) Ulangi berkali-kali sampai anak mampu melakukan sendiri
f) Kondisikan belajar sambil bermain agar anak selalu dalam kondisi senang
6. Mengikuti jejak dengan mata
Dampak : Pengertian visual, latihan menyambar
Tujuan : Untuk meningkatkan perhatian visual
Sasaran : Untuk memperhatikan tangan seseorang supaya mengetahui meletakkan tempat suatu benda
Alat peraga: 3 mangkok atau baki kecil, makanan kecil untuk imbalan
Prosedur :
a) Duduklah saling berhadapan menghadap meja
b) Letakkan 3 mangkok diatas meja
c) Angkat snack dan lambaikan di bidang pandangannya, sambil katakana lihat….(panggil namanya)
d) Bila anak melihat snack itu segera letakkan pada salah satu mangkok. Katakan ambil…sa mbil menunjuk snack.
e) Jika anak tidak merespon lakukan prompt penuh
f) Ulangi kegiatan ini, sampai anak memperhatikan tangan anda menaruh snack itu dan kemudian mengambilnya sendiri
7. Berjaga-jaga terhadap bunyi yang dikenal
Dampak : Pengertian auditori (pengertian) aktifitas kognitif
Tujuan : Untuk waspada terhadap bunyi yang sudah dikenal dan mengenal ini sebagai komunikasi yang member tahukan suatu [peristiwa yang akan terjadi
Sasaran : Menghentikan aktifitas bila ada bel berbunyi, melihat kea rah sumber
bunyi dan kemudian bergerak kearah anda
Alat peraga: Bel atau lonceng yang sangat keras bunyinya
Prosedur :
a) Cari aktifitas yang sangat disukai anak misalnya mandi
b) Sebelum melakukan mandi bunyikan bel dengan keras dari belakangnya
c) Segera setelah dia menoleh , peganglah tangannya dan katakana mandi dengan ceria
d) Jika anak tidak merespon bunyi bel, pindahkan bel ke sebelah anak sehingga dia melihatnya, tetapi jangan biarkan dia melihat saat anda menggoyong bel itu
e) Lakukan terus aktivitas ini sampai anak terbiasa
f) Bila sudah biasa , secara berangsur-angsur jauhkan jarak bel dari anak
8. Duduk tanpa bantuan,
Dampak : Gerakan tak sempurna pada tubuh, interaksi individual,
Tujuan : Untuk dapat duduk tanpa bantuan
Sasaran : Untuk menggoyang-goyangkan badan kesamping dan duduk tegak dengan memakai kedua lengan
Alat peraga: tak ada
Prosedur :
a) Apabila anda akan mengajak anak bermain, pindahkan dia ke tempat yang ada matrasnya
b) Latihlah kebiasaan duduk , dengan meletakkan lengan kanan di sebelahnya. Lalu peganglah lengan kirinya diatas siku dan secara halus tegakkan dia dengan sikap miring agar berat badannya ajtuh pada siku dan lengan kanannya.
c) Jika anak terus menegakkan tubuhnya, bantulah dia mengangkat siku kanannya, sehingga dia akan mendorong dirinya sendiri untuk tegak dengan telapak tangannya dilantai
d) Bila dia sudah biasa , sedikit demi sedikit kurangi bantuan dengan menarik. Biarkan dia untuk mendorong sendiri untuk menegakkan tubuhnya
e) Akhirnya pegang saja tangan kirinya untuk menjaga keseimbangan pada waktu dia menyelesaikan gerakan itu.
f) Jika anda terus melakukan kebiasaan ini, setiap kali anda akan mengangkat anak , dia akan belajar dan memulai mengantisipasi gerakan-gerakan itu.
PERKEMBANGAN PERILAKU ANAK NORMAL
USIA KEMAMPUAN MOTORIK KEMAMPUAN WICARA
Lahir Fiksasi pandangan Bereaksi terhadap suara
5 Minggu Tersenyum sosial
2 bulan Mengikuti benda di garis tengah
3 bulan Telapak tangan terbuka Guuu, guuu
4 bulan Menyatukan kedua tangan Orientasi terhadapsuara
Aguuu- aguuu (Mengoceh)
5 bulan Mengetahui adanya benda kecil
Memindahkan benda antara 2tangan Menoleh kepada suara belfase I
Mengoceh
6 bulan Meraih unilateral Mengoceh
Da-da-dada (menggumam)
7 bulan Memeriksa benda Menoleh kepada suara belfase II
8 bulan Memeriksa benda Mengerti perintah “tidak boleh”
Da-da da (tanpa arti)
Ma-ma-maa (tanpa arti)
9 bulan Melemparkan benda Dada
Menoleh kepada suara belfase III
10 bulan Membuka penutupmainan
11 bulan Meletakkan kubus dibawah gelas Mengerti perintah ditambah mimi
Mama dan kata pertama selain mama
12 bulan Melepaskan benda dengan sengaja
Mencoret
Memasukkan biji dalam botol
Minum dari gelas sendiri
Menggunakan sendok
Kata kedua
13 bulan Kata ketiga
14 bulan Melepaskan biji dengan meniru Mengerti perintah tanpa mimik
15 bulan Meniru membuat garis
Menyusun 2 kubus 4-6 kata
16 bulan Melepaskan biji spontan
Menyusun 3 kubus
17 bulan Menunjuk bagian badan yang
Disebutkan 7-20 kata
18 bulan Membuat garis secara spontan
21 bulan Kalimat pendek 2 kata
24 bulan Kereta api dengan 4 kubus
Membuka baju sendiri 50 kata
Kalimat terdiri dari 2 kata
25-27 bulan Membuat garis datar & tegak
30 bulan Kereta apai dengan cerobong asap
Meniru membuat lingkaran
3 tahun Membuat lingkaran spontan
Membuat jembatan dari 3 kubus
Membuka kancing 250 kata
Kalimat terdiri dari 3 kata
4 tahun Membuat pintu gerbang dari 5 kubus
Memasang kancing Kalimat terdiri dari 4-5 kata
Bercerita
Menanyakan arti suatu kata
Menghitung sampai 20
5 tahun Mengikatkan tali sepatu
6 tahun Membuat tangga & dinding dari
Beberapa kubus tanpa contoh
INTERVENSI DINI ANAK AUTIS
Disampaikan dalam work shob penanganan dini anak autis
Di Palangkaraya Kalimantan Tengah
3-4 Nopember 2010
Di Susun Oleh:
Drs. H.Hamsi Mansur, M.M.Pd
Imam Yuwono, M.Pd
Perkembangan bahasa Reseptif dan Ekspresif ( bagi anak tunarungu )
BAB I
Pendahuluan
1.1. Latar belakang
Salah satu indera yang dimiliki manusia ialah indera pendengaran. Seringnya anak yang kecil yang berumur 2 atau 3 bulan sudah mampu mendengar suara. Orang yang tidak dapat mendengar, dunia ini terasa sepi. Kurang pendengaran akan merupakan hambatan dalam belajar bicara dan peguasaan bahasa. Akibatnya akan berpengaruh terhadap perkembangan seluruh kepribadian.
Anak dikatakan menderita kelainan pendengaran apabila anak itu tidak mampu mendengar atau kurang mampu mendengar suara. Tunarungu berhubungan erat dengan sistem pendengaran.
Proses mendengar diawali dengan ditangkapnya suara atau energi bunyi oleh daun
telinga dalam bentuk gelombang yang dialirkan melalui udara melewati saluran telinga luar. Kemudian gelombang tersebut menggetarkan membaran timpani yang diteruskan ke telinga tengah melalui tulang-tulang pendengaran (malleus, incus, stapes) yang akan mengamplifikasi getaran. Energi getar yang telah diamplifikasi ini diteruskan ke stapes yang menggerakan tingkap lonjong (oval window) sehingga perilimfe pada skala vestibuli bergerak, lalu getaran diteruskan melalui membran Reissner yang mendorong endolimfe dalam kokhlea, sehingga akan menimbulkan gerak relatif antara membran basilaris dan membran tektoria.
Proses ini merupakan rangsang mekanik yang menyebabkan sel-sel rambut di organ corti bergerak sehingga terjadi pelepasan ion bermuatan listrik dari badan sel. Keadaan ini menimbulkan proses depolarisasi sel rambut, sehingga menstimulasi lepasnya neurotransmitter (glutamat) ke dalam sinapsis yang akan menimbulkan potensial aksi pada saraf auditorius ( N.VIII komponen cochlearis), kemudian impuls saraf diteruskan ke korteks pendengaran primer dan asosiasi (area 41 dan 42) di lobus temporalis.
1.2. Rumusan masalah
a. Bagaimana landasan didaktik pengajaran bahasa anak tunarungu ?
b. Apa perbedaan perdati bebas dan perdati melanjutkan informasi bila dilihat dari titik tolaknya, sumber serta prosesnya?
BAB II
ISI
2.1. Perkembangan bahasa Reseptif dan Ekspresif
Perkembangan bahasa anak tunarungu bermula dari umur 0 sampai dengan tak terhingga. Perkembangan bahasa anak tunarungu terbagi atas :
a. Perkembangan Bahasa pasif (reseptif)
Perkembangan bahasa reseptif atau pasif terjadi pada Pra bahasa (pre lingualistik ) Perkembangan bahasa pasif reseptif terjadi dalam percakapan sehari – hari dengan lingkungannya.
Anak tunarungu akan mengalami gangguan bahasa reseptif yaitu anak memiliki kesulitan dengan pemahaman apa yang dikatakan kepada mereka. Gejala bervariasi antara individu tetapi, secara umum, masalah dengan pemahaman bahasa biasanya dimulai sebelum usia empat tahun.
Anak-anak perlu memahami bahasa sebelum mereka dapat menggunakan bahasa secara efektif. Dalam kebanyakan kasus, anak dengan masalah bahasa reseptif juga memiliki gangguan bahasa ekspresif, yang berarti mereka mengalami kesulitan menggunakan bahasa lisan.
Diperkirakan bahwa antara tiga dan lima persen anak memiliki gangguan bahasa reseptif, atau ekspresif, atau campuran keduanya. Nama lain untuk gangguan bahasa reseptif meliputi gangguan pendengaran dan pusat pengolahan defisit pemahaman. Pilihan pengobatan termasuk terapi wicara-bahasa.
Gejala gangguan bahasa pasif reseptif
• Tidak tampak mendengarkan ketika mereka bicara
• Kurangnya bunga ketika buku cerita yang dibaca kepada mereka
• Ketidakmampuan untuk memahami kalimat rumit
• Ketidakmampuan untuk mengikuti instruksi lisan
• Membelokan kata atau frasa (Echolalia)
• Bahasa keahlian di bawah tingkat yang diharapkan untuk usia mereka.
penyebab gangguan bahasa pasif reseptif
Penyebab gangguan bahasa reseptif seringkali tidak diketahui, tetapi diduga terdiri dari sejumlah faktor yang bekerja dalam kombinasi, seperti :
• kerentanan genetik anak
• eksposur anak untuk bahasa
• perkembangan umum dan kognitif (dan pemahaman) kemampuan
• Cidera otak
Pencegahan
Karena penyebab reseptif-ekspresif bahasa campuran gangguan perkembangan tidak jelas, tidak ada cara khusus untuk mencegah hal itu. Diet sehat selama kehamilan dan perawatan kehamilan secara rutin selalu disarankan. Karena bentuk yang diperoleh gangguan yang disebabkan oleh kerusakan pada otak, apa pun yang membantu untuk mencegah kerusakan otak mungkin memberikan perlindungan terhadap bahwa bentuk kekacauan. langkah-langkah pencegahan tindakan pencegahan seperti menurunkan kadar kolesterol darah, yang dapat membantu mencegah stroke, atau memakai helm sepeda atau mobil Sabuk Pengaman untuk mencegah cedera kepala traumatis.
b. Perkembangan bahasa ekspresif (aktif produktif )
Perkembangan ini berada pada masa perkembangan bahasa (interlinguilitas), anak sudah mulai aktif berpartisifasi dalam percakapan dengan orang dewasa, walaupun penggunaan jumlah katanya masih terbatas dan terkadang pola kalimatnya masih sederhana dan kadang – kadang masih salah penggunaannya. Bahasa ekspresif mencapai puncaknya ketika anak mulai berusia 3 sampai dengan 6 tahun, anak sudah menguasai berbagai macam pola kalimat , berbagai ungkapan dengan tepat , bahkan mampu mengadakan percakapan tanpa bantuan orang lain. Pada usia ini anak sudah memiliki dunia pergaulan yang luas , baik dilingkungan rumah, dan lingkungan sekolah. Luasnya pergaulan mempengaruhi perkembangan bahasa anak baik secara aktif maupun secara pasif. Perkembangan bahasa ditingkat sekolah semakin pesat karena ada penguasaan belajar membaca dan menulis, perkembangan bahasa anak dari masa ke masa sangat meningkat karena dimana ada percakapan disitu terjadi perkembangan bahasa.
FUNGSI PERKEMBANGAN BAHASA
Fungsi berbahasa merupakan proses paling kompleks di antara seluruh fase perkembangan. Fungsi berbahasa bersama fungsi perkembangan pemecahan masalah visuo-motor merupakan indikator yang paling baik dari ada tidaknya gangguan perkembangan intelek. Gabungan kedua fungsi perkembangan ini akan menjadi fungsi perkembangan sosial. Perkembangan bahasa memerlukan fungsi reseptif dan ekspresif. Fungsi reseptif adalah kemampuan anak untuk mengenal dan bereaksi terhadap seseorang, terhadap kejadian lingkungan sekitarnya, mengerti maksud mimik dan nada suara dan akhirnya mengerti kata-kata. Fungsi ekspresif adalah kemampuan anak mengutarakan pikirannya, dimulai dari komunikasi preverbal (sebelum anak dapat berbicara), komunikasi dengan ekpresi wajah, gerakan tubuh, dan akhirnya dengan menggunakan kata-kata atau komunikasi verbal.
• Fungsi berbahasa pada bayi baru lahir
Fungsi reseptif terlihat dengan adanya reaksi terhadap suara. Hal ini pada mulanya bersifat refleks. Kemudian ia memperlihatkan respons motorik berupa terdiam kalau mendengar suara, mengedip, atau seperti gerak terkejut. Fungsi ekspresif muncul berupa mengeluarkan suara tenggorok misalnya bertahak, batuk dan menangis. Fungsi suara tenggorok berangsur menghilang umur 2 bulan, digantikan dengan suara “ooo-ooo”. Senyum sosial telah dapat dilihat pada umur 5 minggu dengan berbicara atau mengelus pipinya. Senyum simetris, tidak seperti senyum asimetris yang dapat terlihat pada saat anak buang air besar atau kecil yang disebut sebagai meringis. Reaksi orientasi terhadap bunyi seperti respons motorik, mengedip atau gerakan seperti kaget merupakan hal yang penting untuk diperhatikan.
• Fungsi berbahasa pada umur 2-12 bulan
Pada umur 2 bulan, bayi dapat mengeluarkan suara “ooo-ooo” dengan irama yang musikal. Pada umur 4 bulan, terdengar suara “agguuu-aguuu”. Pada umur 6 bulan terdengar anak dapat menggumam. Pada umur 8bulan ia dapat mengucapkan “dadada” lalu menjadi “dada” yang belum berarti, disusul “dada” yang diucapkan saat ia melihat ayahnya. “Mama” akan muncul lebih belakang. Ia dapat mengerti “Tidak boleh!” yang disertai suara nada tinggi pada umur 9 bulan. Pada umur 11 bulan ia dapat mengucapkan kata pertama yang benar, disusul kata kedua pada umur 1 tahun. Orientasi terhadap bel dapat digunakan untuk menguji kemampuan reseptif dan orientasi. Pada umur 5 bulan ia menoleh tetapi tidak menatap kepada suara. Umur 7 bulan menoleh dan menatap sumber suara. Umur 10 bulan ia mencari dan menatap sumber suara. Bel tidak dapat digunakan untuk menguji pendengaran dengan baik.
• Fungsi berbahasa 12-18 bulan
Antara 12-15 bulan terdengar munculnya kata-kata baru sebanyak 4-6 kata. Dapat terdengar pula immature jargoning yaitu anak berbicara dalam bahasa yang aneh, atau mencoba mengucapkan kalimat berupa suara yang tidak jelas artinya. Antara 16-17 bulan, ia sudah dapat menguasai 7-20 kata jargoning menjadi lebih matang yang ditandai munculnya kata yang benar
diantara kata yang tidak benar. Pada usia 18 bulan, ia dapat mengucapkan kalimat pendek yang susunannya belum benar misalnya :”Joni minta”, “Kasih joni”, “minta susu”.
• Fungsi berbahasa setelah 18 bulan
Pada umur 21 bulan, perbendaharaan kata mencapai 50 kata, dan ia dapat mengucapkan kalimat terdiri dari 2 kata. Ia sudah menggunakan kata “saya”’ kamu walaupun seringkali belum tepat. Pada umur 30 bulan, kata “saya”, “kamu” sudah benar. Pada umur 3 tahun ia menguasai 250 kata dan dapat membentuk kalimat terdiri dari 3 kata. Pada umur 4 tahun ia mulai bertanya mengenai arti suatu kata, terutama yang abstrak. Ia dapat bercerita dan menggunakan kalimat terdiri dari 4-5 kata.
Gejala gangguan bahasa ekspresif
Seorang anak dengan gangguan bahasa reseptif juga mungkin memiliki gangguan bahasa ekspresif, yang berarti mereka memiliki kesulitan dengan menggunakan bahasa lisan. Gejala berbeda dari satu anak ke berikutnya, tetapi bisa termasuk:
• Sering menangkap kata yang tepat
• Menggunakan kata-kata yang salah dalam pidato
• Membuat kesalahan gramatikal
• Mengandalkan pendek, konstruksi kalimat sederhana
• Bergantung pada saham frase standar
• Ketidakmampuan untuk 'datang ke titik' dari apa yang mereka katakan
• Masalah dengan menceritakan kembali sebuah cerita atau menyampaikan informasi
• Ketidakmampuan untuk memulai atau mengadakan percakapan.
2.2. Percakapan sebagai poros perkembangan bahasa
Percakapan merupakan poros dari perkembangan bahasa anak pada umumnya untuk anak mendengar. Namun disini percakapan yang dijadikan poros kegiatan belajar mengajar disekolah Tunarungu yang menggunaka metode oral natural yang reflektif/ metode percakapan yang reflektif (MPR)
• Metode oral natural
Titik berat metode komunikasi oral dalam mengekspresikan gagasan/pikiran/ perasaan:
-Pengucapan/ ujaran
-Membaca ujaran (speech reading)
Tujuan ATR diberikan metode komunikasi oral yaitu agar ATR baik dalam menerima pesan atau mengekspresikan gagasan, pikiran, dan perasaannya diharapkan melalui cara-cara yang lazim digunakan oleh anak-anak pada umumnya, juga diharapkan dapat menerima akses kebahasaan yang lebih besar dari lingkungannya
• Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pembelajaran bahasa agar ATR dapat menggunakan metode komunikasi oral dengan baik,
•Gunakan bahasa sehari-hari secara wajar
•Materi ambil dari pengalaman anak
•Berikan penekanan pada pembelajaran membaca ujaran
•Perkuat latihan meniru ujaran yang wajar
•Gunakan setiap kesempatan untuk memberikan pengalaman bahasa yang wajar
•Gunakan pendekatan percakapan dalam pembelajaran, karena melalui percakapan bukan hanya terjadi pertukaran pengalaman dan pikiran, dalam percakapan terjadi percakapan bahasa yang lengkap, seperti bentuk-bentuk kalimat, gaya bahasa, intonasi, irama dan lagu kalimat, percakapan juga merupakan dasar penguasaan bahasa.
• Jenis-jenis Pendekatan Metode Oral
•Pendekatan oral kinestetik, yaitu suatu pendekatan oral yang mengandalkan membaca ujaran, peniruan melalui penglihatan, serta rangsangan perabaan, dan kinestetik tanpa memanfaatkan sisa pendengaran
•Pendekatan Unisensory, yaitu suatu pendekatan yang memberikan penekanan terhadap penggunaan ABM yang bermutu tinggi serta latihan mendengar. Dalam pendekatan ini membaca ujaran dinomorduakan.
•Pendekatan Oral Grafik, yaitu pendekatan oral yang menggunakan tulisan sebagai sarana dalam mengembangkan kemampuan komunikasi oral.
Orang mengalami gangguan fungsi otak mengalami kesulitan dalam mengontrol organ artikulasi dan mengalami kelemahan dalam mengingat data yang disajikan secara berurutan, seperti dalam membaca ujaran
• Kelebihan-kelebihan menggunakan metode komunikasi oral
•Metode komunikasi oral lebih fleksibel, baik pembicara maupun lawan bicara, lebih bebas
•Metode komunikasi oral lebih berdifrensiasi, dapat mengungkapkan nuansa perasaan dan hal-hal yang abstrak
•Menggembirakan, karena dapat digunakan untuk melakukan komunikasi lebih luas dengan masyarakat pada umumnya
Kelemahan-kelemahan menggunakan metode komunikasi oral
•Sulit dilaksanakan bagi anak yang mengalami gangguan pendengaran dan mengalami gangguan lain, seperti: gangguan penglihatan, gangguan kecerdasan
•Terdapat beberapa konsonan yang dasar pengucapannya tidak dapat diamati secara kasat mata, karena dibentuk di bagian belakang mulut, seperti: k, g, serta yang tidak dapat dibedakan pada waktu diucapkan, seperti pada kata ”babi –papi, palu –malu, baju –maju”
•Sulit diamati pada jarak panjang yang agak jauh
•Banyak kata-kata dalam gerak bentuk bibir sama tetapi memiliki makna yang berbeda.
Van Uden membedakan adanya :
A. Percakapan dari hati ke hati (PERDATI)
B. Percakapan Linguistik
a) Percakapan Dari Hati ke Hati (PERDATI)
PERDATI Merupakan percakapan yang bersifat spontan antara anak dengan orang tua , guru, orang lain, antar anak itu sendiri, dlm suasana santai, rileks, akrab, serta terjadi inter subyektivitas. Menerapkan metode tangkap dan peran ganda dengan moto ”Apa yang ingin kau katakan katakanlah begini…”
• Prinsi-Prinsip Perdati
Percakapan harus :
•Bersifat spontan, wajar, dan rileks
•Berlangsung dalam suasana akrab, menarik, hangat, situasional, dan menyenangkan.
•Menggunakan bahasa penghayatan, atau bahasa percakapan dari kehidupan sehari-hari.
•Mengalir, lancar,dan fleksibel.Mengandung pemupukan empati.
• Tujuan Perdati Langsung/jangka pendek
Dengan sesering mungkin melakukan perdati, anak tunarungu diharapkan sesegera mungkin:
o Memperoleh /menguasai bahasa percakapan sehari-hari.
o Menyadari dan menguasai cara berkomunikasi oral dengan lingkungannya.
o Menyadari adanya berbagai fungsi bahasa dan mampu mengguakakannya dalam situasi yang tepat.
o ATR sbg makhluk sosial terampil berbahasa dan berkomunikasi lisan maupun tulisan dengan bahasa yg baik dan benar.
o Mempunyai dasar untuk mempelajari dan menguasai berbagai ilmu pengetahuan.
• Macam – Macam PERDATI
PERDATI terbagi dua yaitu :
1. PERDATI MURNI / BEBAS
PERDATI bebas Disebut perdati murni karena percakapan berasal dari ungkapan perasaan yang keluar dari lubuk hati anak sendiri, dan tidak dipengaruhi siapapun. Disebut perdati bebas karena materi percakapannya masih sangat bebas.Perdati umumnya terjadi pada ATR usia balita atau ATR yang belum menguasai bahasa oral.
2. PERDATI MELANJUTKAN INFORMASI
PERDATI Melanjutkan Informasi yaitu Percakapan yang diawali dengan adanya informasi , penyampaian berita, pemberitahuan dari seseorang anak atau dua, tiga anak atau dapat juga dari guru tentang suatu hal yang tidak dialami bersama yang menyangkut pengetahuan.Mulai dilaksanaklan di kelas dasar yang lebh tinggi.Pelaksanaannya tidak jauh berbeda dengan perdati murni.
b) PERCAKAPAN LINGUISTIK
Percakapan Linguistik yaitu Dalam percakapan lingustik anak mengadakan refleksi atas bahasanya. Bahan biasanya berupa surat atau buku bacaan dalam bahasa Indonesia. Anak dan guru menggunakan buku catatan hasil percakapan serta pekerjaan rumah perorangan. Di samping latihan refleksi, juga ada latihan rekonstruksi dan konstruksi.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Perkembangan bahasa terjadi paling cepat terjadi antara usia 2-5 tahun. Perbendaharaan kata bertambah dari 50-100 kata sampai 2000 lebih. Susunan kalimat meningkat dari ”telegrafi” kalimat dua- dan tiga-kata sampai penggabungan semua aturan tata bahasa pokok. Mudahnya, antara usia 2 sampai 5 tahun, jumlah kata-kata dalam kalimat yang khas sama dengan usia anak (2 pada 2 tahun, 3 pada 3 tahun, dan selanjutnya). Pada usia 21 bulan sampai 2 tahun, kebanyakan anak menggunakan kalimat posesif (”ini bola saya”), progresif (”saya sedang bermain”), pertanyaan, dan kalimatb penolakan. Saat usia 4 tahun, kebanyakan anak dapat menghitung sampai 4 dan dapat menggunakan kalimat-kalimat lampau, pada usia 5 tahun, anak dapat menggunakan kalimat-kalimat rencana masa depan. Anak tidak bisa menggunakan bahasa kiasan, mereka hanya mengerti arti langsung dari sebuah kata.
Sangat penting untuk membedakan cara bicara (produksi dari suara yang dapat dimengerti) dan bahasa, yang berkenaan dengan sikap mental yang mendasari. Bahasa terdiri dari fungsi ekspresif dan reseptif. Variasi bahasa reseptif (mengerti) kurang daripada tingkat kemahiran bahasa ekspresif.
Kemahiran berbahasa secara prinsip tergantung dari input lingkungan. Faktor yang menentukan ialah jumlah dan variasi cara berbicara kepada anak secara langsung dan dari seberapa sering orang dewasa bertanya pertanyaan dan mendorong anak untuk berbicara. Anak yang dibesarkan dalam kemiskinan menunjukan nilai perkembangan bahasa yang lebih rendah dibandingkan dengan anak yang dibesarkan pada keluarga yang mampu.
Walaupun pentingnya pemajanan bahasa, banyak ahli bahasa yakin bahwa mekanisme dasar untuk kemahiran berbahsa ialah ”kabel keras” ke dalam otak. Anak tidak hanya meniru ucapan orang dewasa. Lebih tepatnya mereka meringkas aturan tata bahasa yang rumit dari bahasa sekitarnya dengan membuat hipotesis lengkap dan memodifikasinya terus-menerus. Generalisasi yang berlebihan, seperti tambahan sembarangan pada bunyi ”s” di akhir kata untuk membedakan benda tunggal atau bunyi ”ed” untuk bentuk lampau, memberi bukti adanya aturan-aturan lengkap tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
Heidi M. Feildman Evaluation and management of speech and language disorder in
preschool children. Pediatrics in Review 2005 ; 26 (4) 131142
http://ryaneducationforall.blogspot.com/
http://dewey.petra.ac.id/jiunkpe_dg_8113.html
HAMBATAN ANAK TUNARUNGU PADA ASPEK SOSIAL DAN KEPRIBADIAN
BAB I
PENDAHULUAN
1) Latar Belakang
Anak berkebutuhan khusus (Heward) adalah anak dengan karakteristik khusus yang berbeda dengan anak pada umumnya tanpa selalu menunjukan pada ketidakmampuan mental, emosi atau fisik. Yang termasuk kedalam ABK antara lain: tunanetra, tunarungu, tunagrahita, tunadaksa, tunalaras, kesulitan belajar, gangguan prilaku, anak berbakat, anak dengan gangguan kesehatan. istilah lain bagi anak berkebutuhan khusus adalah anak luar biasa dan anak cacat. Karena karakteristik dan hambatan yang dimilki, ABK memerlukan bentuk pelayanan pendidikan khusus yang disesuaikan dengan kemampuan dan potensi mereka.
Pendengaran merupakan alat sensoris utama untuk berbicara dan berbahasa. Kehilangan pendengaran sejak lahir atau sejak usia dini akan menyebabkan kesulitan dalam berbicara dan berkomunikasi dengan orang lain secara lisan Kehilangan pendengaran pada seorang anak juga berpengaruh pada perkembangan fungsi kognitifnya, karena anak tunarungu mengalami kesulitan dalam memahami informasi yang bersifat verbal terutama konsep-konsep yang bersifat abstrak yang memerlukan penjelasan. Pemahaman konsep dan proses pembentukan pengertian betapa pun sederhananya diperlukan keterampilan berbahasa yang memadai sebab bahasa merupakan alat untuk berfikir. Anak tunarungu mengalami kesulitan dalam berbahasa secara lisan ,oleh karena itu anak tunarungu mengalami kesulitan dalam mengikuti program pendidikan.
2) Rumusan Masalah
Apa Sajakah Teori yang Berhubungan dengan hambatan Aspek Sosial dan Kepribadian Anak Tunarungu ?
Bagaimanakah Hambatan Aspek Sosial dan Kepribadian dapat Mempengaruhi Pendidikan Anak Tunarungu ?
Apa Sajakah Strategi atau Metode Penganan Hambatan Aspek Sosial dan Kepribadian Anak tunarungu ?
3) Tujuan
Untuk Mengetahui dan Memahami Teori yang Berhubungan dengan hambatan Aspek Sosial dan Kepribadian Anak Tunarungu.
Untuk Mengetahui dan Memahami Mengapa Hambatan Aspek Sosial dan Kepribadian dapat Mempengaruhi Pendidikan Anak Tunarungu.
Untuk Mengetahui dan Memahami Alternatif, Strategi atau Metode Penganan Hambatan Aspek Sosial dan Kepribadian Anak tunarungu.
4) Manfaat
Kita dapat Mengetahui dan Memahami Teori yang Berhubungan dengan hambatan Aspek Sosial dan Kepribadian Anak Tunarungu.
Kita dapat Mengetahui dan Memahami mengapa Hambatan Aspek Sosial dan Kepribadian dapat Mempengaruhi Pendidikan Anak Tunarungu.
Kita dapat Mengetahui dan Memahami Jenis Strategi atau Metode Penganan Hambatan Aspek Sosial dan Kepribadian Anak tunarungu.
BAB II
PEMBAHASAN
2.2 Landasan Teori
a. Pengertian Anak Tunarungu
Tunarungu merupakan istilah yang digunakan untuk menunjukkan keadaan kehilangan pendengaran yang dialami oleh seseorang. Secara umum tunarungu dikategorikan kurang dengar dan tuli, sebagimana yang diungkap Hallahan dan Kauffman (1991:26) bahwa Tunarungu adalah suatu istilah umum yang menunjukkan kesulitan mendengar yang meliputi keseluruhan kesulitan mendengar dari yang ringan sampai yang berat, digolongkan ke dalam tuli dan kurang dengar.
Orang tuli adalah seseorang yang kehilangan kemampuan mendengar sehingga menghambat proses informasi bahasa melalui pendengaran, baik memakai ataupun tidak memakai alat bantu mendengar, sedangkan seseorang yang kurang dengar adalah seseorang yang biasanya dengan menggunakan alat bantu mendengar, sisa pendengarannya cukup memungkinkan keberhasilan proses informasi bahasa melalui pendengaran”.
Pengertian mengenai tunarungu juga sangat beragam, yang semuanya mengacu pada keadaan atau kondisi pendengaran anak tunarungu. Menurut Andreas Dwijosumarto dalam seminar ketunarunguan di Bandung (1988:8) dalam Permanarian Somad dan Tati H (1996:27) menyatakan bahwa “Tunarungu dapat diartikan sebagai suatu keadaan kehilangan pendengaran yang mengakibatkan seseorang tidak dapat menangkap berbagai rangsangan terutama melalui pendengaran”. Dalam www.dit.plb.or.id bahwa anak tunarungu adalah anak yang mengalami gangguan pendengaran dan percakapan dengan derajat pendengaran yang bervariasi antara 27db-40db (sangat ringan), 41db-55db (ringan), 56db-70db (sedang), 71db-90db (berat) dan 91 db ke atas dikatakan tuli.
b. Teori Dampak Ketunarunguan
Menurut Borthtoyd, A. Dalam Sadja’ah, E. (2005: 1) menjelaskan berbagai dampak yang ditimbulkan sebgai akibat dari ketunarunguan mempengaruhi dalam hal:
1. Masalah auditif,
2. Masalah bahasa dan komunikasi,
3. Masalah intelektual dan kognitif,
4. Masalah pendidikan,
5. Masalah sosial,
6. Masalah emosional,
7. Bahkan masalah vokasional.
Kehilangan pendengaran berakibat langsung pada kemampuan penggunaan bahasa dan kemampuan berkomunikasi. Oleh karena itu nak tunarungu memiliki kemampuan yang sangat terbatas untuk mengadakan interaksi sosial dengan, orang lain yang ada di lingkungannya.
Keadaan seperti ini akan berakibat pada perkembangan kepribadian, dengan ditandai oleh rasa harga diri kurang , diliputi oleh perasaan malu-malu, memiliki perasaan curiga dan cemburu yang berlebihan , sering merasa diperlakukan tidak adil, sering diasingkan oleh keluarga dan masyarakat egocentric, impulsive, suggestable dan cenderung memiliki perasaan depresif (Thomas Irianto, 1988). Ciri-ciri kepribadian tersebut juga merupakan akibat dari perlakuan orang tua dan masyarakat terhadap anak tunarungu.
Hubungan manusia dengan lingkungan bersifat transaksional,umumnya tingkah laku itu terjadi karena adanya hubungan timbal balik dan saling mempengaruhi antara individu dengan lingkungan di sekitarnya. Fungsi-fungsi sensoris bertindak sebagai perantara antara individu dengan lingkungannya,baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial. Gangguan pada salah satu fungsi penginderaan akan berpengaruh pada hubungan individu dengan lingkungan sekitarnya yang bersifat transaksional tadi.
Seorang individu yang mengalami gangguan pendengaran tertutup dari rangsangan suara yang berasal dari lingkungannya yang merupakan bagian integral dari peristiwa-peristiwa yang terjadi di lingkungan sekitarnya. Oleh karena itu kehilangan pendengaran menyebabkan terhambatnya kemampuan untuk berkomunikasi secara bebas dan efektif dengan keluarga ,teman-teman dan orang lain yang berada di sekitarnya.
Manusia berkomunikasi saling berhubungan ,dan saling mempengaruhi melalui bahasa, meskipun bahasa itu dapat dinyatakan secara tertulis,tetapi bahasa lisanlah cara yang paling banyak digunakan dalam pergaulan hidup sehari-hari. Di sinilah pentingnya fungsi pendengaran dalam melakukan fungsi sosial. Dengan demikian kehilangan pendengaran akan menimbulkan masalah psiko-sosial pada orang yang menyandangnya.
1. Dampak Ketunarunguan
Karakteristik dalam segi emosi dan sosial
Dengan ketunarunguan dapat mengakibatkan berkurangnya kepercayaan diri dan merasa asing dari masyarakat tempat mereka hidup, sehingga tampak adanya kekurangan dalam interaksi sosial dengan lingkungan tersebut. Dengan demikian semua ini mengakibatkan munculnya suatu keterasingan antara mereka dengan anak normal yang mendengar lainnya. Selain itu, anak tunarungu cenderung memiliki pandangan yang negatif atau bertindak kurang menyenangkan terhadap lingkungan. Untuk itu akan tampak pula efek-efek negatif lainnya, antara lain :
Egosentrisme yang melebihi anak normal
Daerah pengamatan anak tunarungu lebih kecil jika dibandingkan dengan anak yang mendengar, mereka hanya mampu menangkap dan memasukan sebagian kecil dunia luar ke dalam dirinya. Jadi makin sempit perhatiannya, dunia di luar hidupnya semakin menutup dan mempersempit kesadaran. Bagi anak yang masih mempunyai sisa pendengaran, dan jika alat bantu pendengarannya dipakai sejak kecil maka akan dapat membantu memfungsikan sisa pendengaran yang ada. Sehingga didalam menepuh hidupnya dapat terjalin komunikasi dan interaksi sosial dengan masyrakat dilingkungannya. Selain itu kita sangat menyadari bahwa penglihatan dan pengamatan anak tunarungu sangat besar peranannya, sehingga dalam perjalanan hidupnya mereka memiliki sifat “sangat ingin tahu” seolah-olah mereka selalu haus untuk melihat. Hal tersebut bisa juga terjadi pada orang yang mendengar, tetapi bagi anak tunarungu sifat tersebut lebih menonjol.
Mempunyai perasaan takut akan lingkungan yang lebih luas
Bagi orang normal yang mendengar dapat saja suatu saat dihinggapi perasaan takut akan kehidupan ini, tetapi bagi anak tunarungu perasaan tersebut akan lebih sering muncul. Semua ini dapat terjadi karena anak tunarungu sering merasa kurang menguasai keadaan yang ada hal ini di akibatkan karena pendengaran yang mengalami ganguan, sering muncul pada dirinya kekuatiran yang lebih akhirnya dapat menimbulkan suatu ketakutan.
Ketergantungan terhadap orang lain
Sikap ketergantungan terhadap orang lain atau terhadap apa yang sudah dikenalnya dengan baik, merupakan sikap bahwa mereka memiliki rasa keputusasaan dan selalu mencari bantuan dan perlindungan terhadap orang lain, maka di sini berarti anak tunarungu kurang percaya diri dan kurang yakin dengan apa yang telah dimiliki.
Perhatian yang sukar dialihkan
Suatu hal yang sering terjadi pada anak tunarungu baik disekolah maupun di lingkungan tempat mereka tinggal, apabila ia menyukai suatu benda, atau menyukai suatu jenis kegiatan yang berupa keterampilan maupun permainan bisa mereka melakukannya maka perhatiannya sulit untuk dialihkan. Anak tunarungu sukar diajak berfikir tentang hal-hal yang belum terjadi artinya anak tunarungu kurang akan fantasi (abstrak).
Memiliki sifat polos, sederhana tanpa banyak masalah
Di dalam hidupnya sehari-hari mereka seakan-akan tidak mempunyai beban. Biasanya dengan mudah menyampaikan perasaannya kepada orang lain tanpa berfikir dan mempertimbangkan atau memandang bermacam-macam segi yang mungkin menjadi penghalang. Hal ini bisa dipahami karena anak tunarungu tidak memilih alternatif lain karena anak tunarungu tidak menguasai suatu ungkapan dengan baik, bila itu tidak berkenan dalam hatinya maka anak tunarungu lansung menyampaikan walaupun perkataannya akan menyingung perasaan seseorang.
Lebih mudah marah dan cepat tersinggung
Karena sering mengalami kekecewaan disebabkan karena kesukaran dalam menyampaikan fikiran perasaan kepada orang lain, hal ini diekspresikan dengan kemarahan. Mereka kadang kala berfikir bahwa setiap orang yang berbicara dihadapan mereka seakan-akan yang dibicarakan oleh orang lain tersebut adalah membicarakan dia, atau mengeledeknya. Anak tidak akan tersinggung apabila mampu memahami, mengerti dan menguasai dirinya melalui bahasa yang dimilikinya luas. Artinya apa yang dibicarakan orang lain akan lebih mudah dia kuasai dan akan semakin mudah pula mereka berbicara. Akhirnya semua ini akan dapat menumbuhkan keyakinan di dalam menerima dirinya, dengan kata lain kepercayaan diri semakin tinggi, akhirnya akan menunjukkan kematangan dalam berprilaku (kepribadiannya).
2.2 Perkembangan Sosial Anak Tunarungu
Anak tunarungu memiliki kelainan dalam segi fisik biasanya akan menyebabkan suatu kelainan dalam penyusuaian diri terhadap lingkungan. Anak tunarungu banyak di hinggapi kecemasan karena menghadapi lingkungan yang beraneka ragam komunikasinya, anak tunarungu sering mengalami berbagai konflik, kebingungan, dan ketakutan karena ia sebenarnya hidup dalam lingkungan yang bermacam- macam.kesulitan bahasa tidak dapat di hindari untuk anak tunarungu, namun tidaklah demikian karena anak ini mengalami hambatan dalam bicara
Gangguan sosial bagi anak yang pendengarannya rusak akan menghadapai kesulitan perkembangan dalam cara-cara bertingkah laku yang tepat terhadap orang lain. Mereka tidak dapat mendengarkan nada suara yang menunjukan suatu emosi.
` Pada tahun-tahun berikutnya mereka tidak mengetahui aturan-aturan social yang dijelaskan kepada mereka. Yang penting ialah, mereka mengekspresikan perilaku manipulatif dan ritualistik sebagai pengganti bahasa dalam usahanya untuk mempengaruhi orang lain.
2.5 Hambatan Sosial Pada Anak Tunarungu
Kehilangan pendengaran berakibat langsung pada kemampuan penggunaan bahasa dan kemampuan berkomunikasi. Oleh karena itu nak tunarungu memiliki kemampuan yang sangat terbatas untuk mengadakan interaksi sosial dengan, orang lain yang ada di lingkungannya.
Keadaan seperti ini akan berakibat pada perkembangan kepribadian, dengan ditandai oleh rasa harga diri kurang , diliputi oleh perasaan malu-malu, memiliki perasaan curiga dan cemburu yang berlebihan , sering merasa diperlakukan tidak adil, sering diasingkan oleh keluarga dan masyarakat egocentric, impulsive, suggestable dan cenderung memiliki perasaan depresif (Thomas Irianto, 1988). Ciri-ciri kepribadian tersebut juga merupakan akibat dari perlakuan orang tua dan masyarakat terhadap anak tunarungu.
Usaha membimbing anak tunarungu kearah penyesuaian psikologis (psychological adjustment) yang sehat, akan sangat tergantung pada interaksi yang menyenangkan antara anak dengan orang tua . Kesadaran dan pemahaman orangtua serta anggota keluarga yang baik terhadap anak tunarungu akan sangat membantu dalam mengembangkan sikap sosial dan kepribadian anak kearah yang positif.
Persoalan yang sering menimbulkan kesulitan pada orangtua anak tunarungu adalah dalam hal disiplin dalam arti sering terjadi kesalahpahaman antar orangtua dengan anak tunarungu karena saling tidak mengerti apa yang dimaksud oleh masing-masing. Hal seperti ini sering menimbulkan gangguan tingkah laku bagi anak tunarungu, karena anak merasa orangtua tidak mau mengerti apa yang ia maksud.
2.6 Metode penanganan Hambatan Anak Tunarungu Dalam Hubungan Sosial
1) Latihan sosial anak tunarungu dapat dilakukan di :
Di mulai dirumah. Sebagaiman diketahui bahwa banyak orang tua yang tidak
menyadari bahwa pengalaman yang mereka berikan, kurang memberikan pengalaman batiniah. Seperti dengan memberikan berbagai jenis mainan, tetapi tidak dipuaskan dengan memberi kepuasan untuk mengkomunikasikan perasaan senangnya. Oleh karena itu orang tua hendaknya memberikan kepuasan dalam pengalaman lahiriah maupun batiniah. Sekalipun anak tunarungu belum dapat bicara, orang tua wajib mengkomunikasikannya dengan cara menagkap maksud anak, gerak gerik badan , ekspresi wajah atau lewat suara yang dikeluarkan sambil menunjuk sesuatu.
Latihan selanjutnya memberikan kesempatan pada anak tunarungu bergabung dengan keluarganya, orag asing ataupun dengan teman sebayanya. Kegiatan yang dapat dilakukan adalah dimana anak dapat ikut gabung bersama keluarganya pada saat jam makan siang dan malam, dan beraktivitas bersama keluarga, orang tua juga dapat mengajak anak untuk mengunjungi kerabat dan memperkenalkan mereka pada sanak saudara yang datang berkunjung.
Kegiatan yang lain adalah memberi kesempatan kepada anak untuk bermain seluas mungkin dengan teman sebayanya karena bermain merupakan aktivitas belajar. Banyak jenis permainan yang secara tidak langsung mempersiapkan anak untuk hidup bermasyarakat dan melatih fisik dan mental. Biarkan anak tunarungu untuk dapat bermain dengan anak normal agar mereka belajar mengatasi usia bergaul di usia jenjang.dan sebaiknya teman yang normal diberika penjelasan bagaimana cara berkomunikasi.
Anak tunarungu diberi prilaku yang baik. Melakukan pekerjaan bersama-sama akan lebih cepat dimengerti oleh anak tunarungu dari pada memberikan perintah dengan kalimat yang panjang.
Kegiatan latihan selanjutnya yaitu melatih anak untuk meningkatkan keterampilannya dalam berbagai barang-barang miliknya ataupun perasaan kepemilikan bersama sehingga ia akan rela menunggu untuk mendapat giliran dan perhatian dari orang tua dan gurunya.
Terakhir adalah dalam melatih keterampilan sosial adalah jangan pernah mendorong anak tunarungu utuk bersosialisasi pada saat ia belum siap melakukannya. Secara alami, anak mungkin merasa malu atau belum siap serta bagi anak tunarungu anak akan merasa menutup diri dari lingkungan akibat ketunarunguannya. Oleh karena itu pemberian motivasi secara perlahan akan sangat membantu anak, sebaliknya apabila ada pemaksaan pada saat anak belum siap maka akan membuat anak menarik diri dari lingkungan.
2) Materi Pembelajaran Pengembangan Sosial
Perkembangan sosial anak tunarungu sangat terkait dengan perkembangan emosional anak. Oleh karena itu, target prilaku yang menjadi sasaran memiliki kesamaan.
Empati
Empati adalah kemampuan untuk menempatkan diri pada posisi orang lain, untuk mengerti pandangan dan perasaan orang tersebut atau untuk mengalami seperti apa yan dialami oleh orang tersebut. Bagi anak tunarungu perkembangan empatinya sama seperti anak normal pada umumnya. Oleh karena itu orang tua dan juga guru harus memberikan medel dan prilaku yang baik agar anak tunarungu juga akan menirukan prilaku yang baik dari orang terdekatnya. Empati bagi anka tunarungu sangat berperan penting dalam sosialisasi . karena adanya proses berempati yang baik akan memantu anak bergaul dengan lingkungannya secara lebih sehat dan bertanggung jawab.
Afiliasi
Bagi anak tunarungu cenderung memiliki rasa takut dan rasa cemas yang berlebiahan akibat ketunarunguan yang dialaminya.oleh karena itu proses afiliasi sangat berperan penting bagi anak tunarungu untuk dapat bergaul bersama orang lain. Seperti apabila anak membeli suatu jajanan, ditemani oleh teman teman sebayanya agar anak merasa terlindungi dan tidak merasakan cemas dan takut yang berlebihan.
Identifikasi
Identifikasi adalah proses pengaruh sosial pada seseorang yang didasarkan pada keinginan orang tersebut menjadi individu lain yang dikagumi. Bagi anak tunarungu proses identifikasi tidak jauh berbeda dengan anak normal .di taman kanak-kanak proses identifikasinya kerap diperlihatkan untuk mengikuti teman sebayanya yaitu menirukan prilaku atau penampilan yang sering dilakukan oleh teman sebaya ataupun oleh keluarga terdekat seperti ayah, ibu, kakak. Seperti seorang anak perempuan yang sering menggunakan pewarna bibir karena ia ingin seperti ibunya. Namun, dengan pertambahan usia anak, biasanya anak mulai berontak pada displin dirumah ataupun disekolah. Oleh karena itu guru sebaiknya menerapkan nilai-nilai moral.
Self Acceptance
Adalah sikap menerima diri sendiri, suatu sikap yang erat kaitannya dengan kemampuan seorang anak dalm menyesuaikan diri terhadap lingkungan sosialnya.biasanya bagi anak tunarungudapat menerima dirinya sebagai anak tunarungu karena dia juga melihat teman yang disukainya juga memilki ketunarunguan sama seperti dirinya . hal ini biasanya membawa pengaruh penyesuain diri yang kurang baik. Oleh karena itu guru, orang tua ataupun teman sebaya yang normal memberikan pengarahan dan motivasi agar anak dapat berinteraksi dengan orang sekitar dan lingkunagn masyarakat tanpa adanya rasa cemas anak.
Dalam menciptakan suatu lingkungan yang relevan sesuai dengan tugas dan perkembangan psikologi sosial anak tunarungu, peran orang tua, guru serta masyarakat sangatlah dibutuhkan.tanpa memandang sutu perbedaan yang ada. Dengan mengadakan interaksi sosial yang berkelanjutan, anak tunarungu diharapkan dapat mengembangkan kemampuan bahasa dan bicara, agar anak dapat melatih kemampuan bicaranya secara langsung serta dapat menerima norma-norma yang ada dalam masyarakat dan bisa menyesuaikan diri apabila dilatih sejak kanak-kanak.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Salah satu akibat yang muncul dari ketunarunguan adalah permasalahan sosial pada anak Tunarungu. Permasalahan ini menimbulkan seperti sikap tidak percaya, curiga, egosentrisme yang melebihi anak normal, dan sifat polos tanpa adanya beban. Untuk mengatasi hal-hal tersebut, kerjasama antara orang tua dan guru sangatlah diperlukan seperti dengan cara orang tua yang memberikan kepuasan lahiriah dan batiniah serta memberi kesempatan pada anak untuk berkomunikasi dengan orang lain, tidak terbatas hanya pada lingkungan rumahnya saja.
3.2 Saran
Jadi pihak keluarga dan sekolah jangan lah melarang mereka bergaul dengan orang lain, karena dalam pergaulan tersebut adalah salah satu cara dia melatih komunikasi dan bersosial kepada orang lain, sehingga anak tersebut tidak akan kaku dalam hal sosial. Keluarga dan sekolah hendaknya mendukung dan selalu memberikan motivasi kepada anak agar dia memperoleh rasa percaya diri yang tinggi.
DAFTAR PUSTAKA
http://dc352.4shared.com/doc/6xqXEMSy/preview.html
http://primabhaktimulia.wordpress.com/
Mulyono, Abdurrahman. 1994. Pendidikan Luar Biasa Umum. Jakarta: Proyek pendidikan tenaga akademik.
PENANGANAN ANAK TUNANETRA TOTAL
BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Anak Tunanetra adalah anak yang berkebutuhan khusus karena mereka adalah anak yang memiliki kekurangan. Anak cacat atau berkelainan juga memiliki klasifikasi. Di Indonesia pengklasifikasian anak itu sudah dibagi dengan jelas. Untuk anak yang tunanetra atau penyandang cacat mata di golongkan atau dikelompokkan kedalam bagian A atau dalam pendidikannya di golongkan kedalam Sekolah Luar Biasa Bagian A. ini hanya di khususkan bagi penyandang cacat tunanetra saja baik itu yang total ataupun bagi yang low vision atau anak yang memiliki penglihatan yang kurang jelas.
Oleh sebab itulah, lembaga sangat diperlukan keahliannya bagi anak-anak cacat netra tersebut yaitu untuk mengajarkan keberanian dan kedisiplinan yang dapat meningkatkan rasa percaya diri dan dapat
menghilangkan sikap negatif masyrakat tentang ketunaan mereka serta dapat membawa mereka kepada pikiran atau sikap yang positif.
Pelayanan yang ada hendaknya dapat memberikan rasa atau rasa yang dapat menciptakan suasana sejahtera pada para tunanetra, karena mereka adalah individu yang bermasalah social sehingga dengan pelayanan yang diberikan dengan benar dan sesuai dengan apa yang mereka perlukan seperti halnya dapat memanfaatkan indera yang lainnya agar dapat di pakai dan tidak semua indera yang ada pada mereka tidak cacat dan mereka dapat menjalankan fungsi sosialnya dengan baik yang dapat mereka tunjukkan kepada masyarakat yang memiliki pikiran atau sikap negatif yang salah tentang tunanetra, sehingga mereka tidak hanya dianggap sebagai penyakit masyarakat saja melainkan sebagai masyarakat yang dapat berpartisipasi.
Tunanetra sering dianggap orang yang tidak dapat melihat alias buta total, hal ini tidak benar. 90% tunanetra masih memiliki sisa penglihatan yang bisa dirangsang untuk dapat digunakan meskipun hanya untuk membantu melancarkan mobilitasnya. 60% dari yang disebut tunanetra ternyata masih mampu menggunakan sisa penglihatannya untuk membaca dan menulis awas, baik ia menggunakan alat Bantu penglihatan seperti kaca mata dan alat pembesaran lainnya maupun tanpa alat Bantu penglihatan. Dengan demikian tidak semua tunanetra memerlukan tulisan Braille dalam pendidikannya. Orang awam menyangka bahwa semua tunanetra itu buta tidak melihat. Karena menyangka buta maka ia menganggap semua tunanetra tidak bisa melihat sama sekali.
2. Rumusan Masalah
1) Apakah definisi dari Tunanetra Total?
2) Apa sajakah Penanganan Anak Tunabetra Total dalam Pendapatan Informasi ?
3) Apa sajakah Penanganan Anak Tunabetra Total dalam Masalah Mobilitas?
3. Tujuan
1) Untuk mengetahui dan memahami definisi dari Tunanetra Total.
2) Untuk mengetahui dan memahami Penanganan Anak Tunabetra Total dalam proses Pendapatan Informasi.
3) Untuk mengetahui dan memahami Alternatif Penanganan Anak Tunabetra Total dalam Masalah Mobilitas.
4. Manfaat
1) kita dapat mengetahui dan memahami definisi dari Tunanetra Total.
4) kita dapat mengetahui dan memahami, dan mengenali hal-hal maupun Benda-benda dalam Penanganan Anak Tunabetra Total dalam proses Pendapatan Informasi.
2) kita dapat mengetahui dan memahami jenis Penanganan Anak Tunabetra Total dalam Masalah Mobilitas.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Tunanetra Total
Seseorang dikatakan Tunantra Total jika mengalami hambatan visual yang sangat berat atau tidak dapat melihat sama sekali. Kadang-kadang di lingkungan sekolah juga digunakan istilah functionally blind atau educationally blind untuk kategori ini. Penyandang Tunanetra total mempergunakan kemampuan perabaan dan pendengaran sebagai saluran utama dalam belajar. Orang seperti ini biasanya mempergunakan huruf Braille sebagai media membaca dan memerlukan latihan orientasi dan mobilitas. Berdasarkan uraian di atas dapat dikatakan bahwa tunanetra adalah seseorang yang karena sesuatu hal tidak dapat menggunakan matanya sebagai saluran utama dalam memperoleh informasi dari lingkungannya.
Dalam praktek sehari-hari terbukti bahwa Tunanetra relatif kurang mendapatkan pelayanan yang memadai baik mengenai koleksi-koleksi buku , format media bahan pustaka, ataupun dari segi layanan dan komunikasi untukmemenuhi kebutuhan yang berhubungan dengan keperluan informasi bagi para Tunanetra secara adil.
Sering kali, untuk dapat melakukan kegiatan kehidupannya sehari-hari secara mandiri, orang tunanetra harus menggunakan teknik alternatif, yaitu teknik yang memanfaatkan indera-indera lain untuk menggantikan fungsi indera penglihatan dalam kegiatan kehidupannya sehari-hari sehingga pola kehidupan kesehariannya pun sangat berubah dan dalam banyak hal menjadi berbeda dari orang pada umumnya.
Pelayanan pengguna tunanetra adalah memberikan layanan kepada pengguna tunanetra dengan segala keterbatasan fisik di milikinya dalam mencari informasi sesuai dengan kebutuhannya sehingga informasi yang dibutuhkan dapat terpenuhi.
B. Penanganan Tunanetra Total dari Segi Pendapatan Informasi
1. Komputer Berbicara
Khoerunnisa (2010 : 4) menyatakan bahwa Komputer Berbicara adalah Komputer dengan program JAWS. Komputer yang memudahkan penyandang tunanetra mengakses informasi dari internet maupun ketika mengetik adalah computer yang memiliki aplikasi screen reader yang disebut JAWS.
Cara kerja aplikasi screen reader yaitu komputer menerangkan tampilan yang ada pada layar monitor (screen) dengan suara. Mulai dari menu program yang tersedia, sampai menginformasikan dimana letak kursor dan menerangkan tulisan apa saja yang terbaca pada screen (membaca kata perkata maupun huruf demi huruf).
Suara yang dihasilkan oleh JAWS terkesan seperti robot yang berlogat barat. Kecepatannya pun dapat diatur, dipercepat maupun diperlambat. Program JAWS dapat juga mentranslate kata dari Bahasa Indonesia ke bahasa Inggris (saduran dari kamus Hasan Sadili). Pembrailannya pun menggunakan dua program, yaitu Duxbury dan MBC MBC (Mitra Netra Braille Conventer). Duxbury merupakan program dari luar negeri, sedangkan MBC berasal dari Indonesia. Persamaan dari keduanya adalah dapat mengubah tulisan Braille ke tulisan awas maupun sebaliknya. Namun, proses ini memilki kelemahan yaitu file yang disimpan formatnya akan berubah dan simbol-simbol khusus (misal arab dan metematika) tidak dapat dikonversikan langsung.
2. Huruf Braille
Huruf Braille ditemukan oleh Louis Braille (1809-1852), seorang guru berkebamgsaan Perancis yang mengalami kebutaan pada usia 3 tahun. Braille menemukan sistem cetakan dan tulisan khusus untuk penderita tunanetra ini pada tahun 1824 saat masih menjadi siswa pada Institution Nationale des Jeunes Aveugles (National Institute for Blind Children), Paris, Perancis.
Tulisan braille berupa huruf-huruf timbul yang sederhana dan praktis dan metoda membaca dipakai diseluruh dunia. Tulisan braille yang ditulis menonjol atau timbul di atas kertas dan dibaca dengan cara meraba secara lembut dan perlahan tulisan, terdiri atas 6 titik atau lubang dan dijadikan 2 baris, masing-masing 3 titik dari atas kebawah. Jika hanya titik pertama dari baris pertama yang timbul, itu huruf a, jika titik pertama dan kedua dari baris pertama yang timbul itu huruf b. Tulisan braille terdiri dari 63 karakter, yang meliputi huruf, angka, tanda baca, tanda ulang, huruf besar .
Pada tahun 1932, tulisan braille diakui sebagai Standard English Braille oleh perwakilan dari perkumpulan penyandang cacat netra seInggris Raya dan Amerika Serikat. Untuk melengkapi dan menyempurnakan tulisan braille, pada tahun 1065 The Nemeth Code of Braille Mathematics and Scientific Notation memodifikasi tulisan braille yang mewakili bermacam-macam simbol khusus yang digunakan untuk bidang matematika dan teknik. Di samping itu juga, masih banyak tulisan braille yang dimodifikasi untuk penulisan notasi musik, tulisan cepat (stenografi) dan macam-macam bahasa di dunia. Saat ini, tulisan tangan dengan menggunakan tulisan braille sudah dimungkinkan dengan menggunakan alat yang bernama ”slate”. Yang terdiri dari 2 buah lembaran baja, yang dihubungkan dengan menggunakan sendi yang berguna untuk memasukkan selembar kertas diantaranya.
Dari sini dapat disimpulkan bahwa tulisan penemuan Louis Braille sangat berperan penting untuk membantu para penyandang cacat netra mengatasi kendala dalam bersosialisasi dan berkomunikasi antar sesama penyandang cacat netra dan dengan masyarakat umum. Kendala ini dapat teratasi karena masalah pokok penyandang cacat netra adalah individu yang mempunyai kelainan fisik (physical handicap) yang berpengaruh terhadap fungsi sosial dan fungsi emosional, yang termanifestasi dalam bentuk gangguan kepribadian (sikap pasif dan sikap ragu) serta gangguan dalam penyesuaian diri (rendah diri, kurang berani mengenal orang lain, merasa tidak berguna). Karena tulisan braille sudah diakui sebagai standar cetakan dan tulisan bagi penyandang cacat netra, sehingga para penyandang cacat netra tidak perlu takut dan cemas untuk berkomunikasi dengan sesamanya, karena mereka mempunyai ”tilisan” sebagai akses yang bisa dipakai sebagai identitas diri, dimana hal ini nantinya akan menumbuhkan keberanian mereka untuk berkomunikasi dengan orang normal dan melakukan tugas dan fungsinya dalam masyarakat, tanpa terganggu oleh ketunaannya, sama dengan orang normal.
Jane Ware (2002 : 2) menyatakan bahwa Huruf Braille adalah kode didasarkan pada enam titik, disusun dalam dua kolom tiga titik. Ada berbagai jenis kode braille. variasi menggunakan ini dari enam titik untuk mewakili semua huruf dari alfabet, angka, tanda baca dan kelompok yang sering terjadisurat. orang buta membaca dari kiri ke kanan di halaman dengan sentuhan ringan, menggunakan satu atau kedua tangan.
Bantalan lembut jari-jari digunakan untuk merasakan titik terangkat, karena ini lebih sensitif dibandingkan dengan ujung jari. Sebagian besar pembaca braille terlihat membaca huruf braille oleh penglihatan. Jari sensitif dibutuhkan untuk membaca braille. Ukuran huruf braille yang umum digunakan adalah dengan tinggi sepanjang 0.5 mm, serta spasi horizontal dan vertikal antar titik dalam sel sebesar 2.5 m
3. Digital Ascesible System (DAISY) Player
PlayerDigital Ascesible System (DAISY)Player. DAISY Player digunakan untuk mempermudah penyandang tunanetra untuk memperoleh informasi dari buku tertentu yang telah diubah menjadi bentuk suara. Kecepatan dan volume suara dapat diatur sedemikian rupa sesuai kebutuhan. Buku bicara yang digunakan untuk DAISY player ini berupa compact disk.
4. Buku bicara (Digital Talking Book)
Digital talking books adalah perangkat yang memungkinkan pembaca tidak hanya bisa menikmati suara audio yang dibacakan dari buku, namun juga memungkinkan pengguna untuk melewati beberapa teks untuk mencari topik atau pencarian kata tertentu. Buku-buku dioperasikan dengan menggunakan pemutar buku digital berbicara, dengan serangkaian tombol kontrol yang memungkinkan pembaca untuk manuver melalui teks di dalamnya. Ini membuktikan buku bicara lebih dari sekedar buku audio sederhana yang hanya memungkinkan pembaca untuk berhenti, mulai, dan mundur untuk mencari titik tertentu dalam presentasi.
Kemampuan untuk mengatur bookmark elektronik dapat sangat berguna, karena memungkinkan pembaca untuk berhenti bahkan di tengah bagian atau bab, dan mengambil di tempat yang sama di lain waktu. Pembaca juga dapat menggunakan fungsi untuk melewatkan sebuah paragraf membosankan, atau melakukan pencarian kata kunci.
Buku bicara pada dasarnya memilki cara kerja yang hampir sama dengan buku bicara dalam bentuk compact disk (CD). Hanya saja pengoperasian kaset bicara harus menggunakan radio tape.
5. Printer Braille
Khoerunnisa (2010 : 4) menyatakan bahwa Printer Braille memiliki cara kerja yang mirip dengan printer dot matrix. Proses pencetakan dilakukan dengan cara pengetukan pada kertas, sehingga printer ini lebih bersuara jika dibandingkan dengan printer tinta. Printer braille terdiri dari dua tipe, yaitu COMET dan BRAILLO NORWAY (tipe 200 dan 400). Perbedaan dari dua tipe ini terletak pada hasil cetakannya. Printer COMET hanya dapat mencetak dari dua sisi (satu muka), sedangkan BRAILLO NORWAY dapat mencetak dua sisi (bolak-balik).
6. Termoform
Termoform merupakan mesin pengganda (copy) bacaan penyandang tunanetra dengan penggunakan kertas khusus, yaitu braillon.
7. Telesensory
Telesensory merupakan suatu alat yang digunakan untuk memperbesar huruf awas agar terbaca oleh penderita tunanetra low vision.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pelayanan pengguna tunanetra adalah memberikan layanan kepada penyadang tunanetra dengan memberikan fasilitas buku secara manual yaitu buku braille maupun teknologi seperti komputer berbicara, buku elektronik,yang menggunakan program jaws. Dengan adanya layanan berbasis teknologi, diharapkan dapat memfasilitasi penyandang tunanetra untuk mengakses informasi.
8. Gambar-gambar Alat Bantu Tunanetra Lainnya
a. Globe timbul
bahan fiber, diameter 42 cm, dilengkapi garis lintang/bujur dan keterangan-keterangan dalam huruf braile
b. Riglet kecil
Bahan plastik, terdiri dari 4 baris 28 petak
c. Abakus
Bingkai plastik, alas karpet, tiang stainlis, terdiri atas 13 digit
d. Tongkat lipat
Bahan aluminium galfanis vernikel panjangg 110cm
e. Jam bicara bahasa inggris dan bahasa indonesia
f. Peta indonesia
Bahan relief fiber, bingkai triplek, ukuran 40x100cm
g. Bola kaki bunyi
Bahan kulit imitasi, terdapat kerincingan didalamnya
h. Busur derajat braille
Bahan fiber, diameter 20 cm, dilengkapi jarum penunjuk terdapat titik-titik setiap 5 derajat dan terdapat angka braille pada sudut-sudut istimewa
C. Penanganan Tunanetra Total dari Segi Mobilitas
Adanya ketunanetraan pada seseorang, secara otomatis ia akan mengalami keterbatasan. Keterbatasan itu adalah dalam hal:
(1) memperolah informasi dan pengalaman baru,
(2) dalam interaksi dengan lingkungan, dan
(3) dalam bergerak serta berpindah tempat (mobilitas).
Oleh karena itu, dalam perkembangannya seorang anak tunanetra mengalami hambatan atau sedikit terbelakang mobilitasnya bila dibandingkan dengan anak normal yang awas.
1. Dampak Ketunanetraan terhadap Motorik dan Mobilitas
Rogow (Hadi, 2005) mengemukakan bahwa anak tunanetra memiliki kesulitan gerak berupa:
a. Spasticity yang ditunjukkan oleh lambatnya bergerak, kesulitan, dan koordinasi gerak yang buruk;
b. Dyskinesia yaitu adanya aktivitas gerak yang tak disengaja, gerak athetoid, gerak tak terkontrol, tak beraturan, gerakan patah-patah, dan berliku-liku;
c. Ataxia yaitu koordinasi yang buruk pada keseimbangan postur tubuh, orientasi terbatas, oleh akibat kekakuan atau ketidakmampuan dalam menjaga keseimbangan;
d. Mixed Types merupakan kombinasi pola-pola gerak dyskitenik, spastic, dan ataxic;
e. Hypotonia ditunjukkan oleh kondisi lemahnya otot-otot dalam merespon stimulus dan hilangnya gerak refleks;
Jan et al. (Kingsley, 1999)) mengemukakan bahwa anak-anak yang mengalami ketunanetraan yang parah dengan sistem saraf yang sehat, yang belum pernah diberi kesempatan cukup memadai untuk belajar keterampilan motorik, sering mengalami keterlambatan dalam perkembangannya. Sering kali mereka lemah, daya koordinasinya buruk, berjalannya goyah, dan kedua belah kakinya senantiasa "bertukar tempat".
Apabila berjalan kakinya diseret dan tangannya menjulur ke depan. Best (1992) mengemukakan bahwa anak-anak tunanetra tidak dapat dengan mudah memantau mobilitasnya (gerakannya) dan oleh karenanya dapat mengalami kesulitan dalam memahami apa yang terjadi bila mereka menggerakkan atau merentangkan anggota tubuhnya, membungkukkan atau memutar tubuhnya. Karena mereka tidak dapat melihat gerakan orang lain dengan jelas, mereka tidak bisa mengamati bagaimana orang duduk, berdiri, dan berjalan serta kemudian menirukannya. Maka mereka akan memiliki lebih sedikit kerangka acuan/pola (term of reference), dan mungkin tidak akan menyadari apa artinya "duduk tegak", berjalan kaki melangkah dan tangan diayun, sehingga terjadi keserasian gerak antara kaki, tangan, dan tubuh ketika sedang berjalan.
Dampak lain ketunanetraan dapat dilihat pada postur tubuh dan gaya jalan. Akibat ketunanetraan biasanya ia berjalan dengan kaki diseret karena ingin menditeksi jalan yang berlubang, tangan menjulur ke depan karena kalau menabrak sesuatu lebih baik tangan dulu yang menabrak daripada kepala, perut ke depan agar dapat menopang tubuh secara keseluruhan. Kondisi seperti ini akan membentuk Gaya jalan dan postur tubuh yang jelek, dada dan bahu menyempit, postur tubuh bungkuk, kaki bengkok, dll. Kondisi ini tidak bisa dibiarkan begitu saja. Perlu penanganan yang tepat dan profesional.
Oleh karena itu tanpa intervensi dan pembinaan mobilitas/gerak yang tepat, benar, dan utuh anak tunanetra tidak akan memiliki mobilitas yang baik. Secara psikologis akan menimbulkan rasa tidak percaya diri.
2. Program Pembinaan Gerakan Tubuh
a. Rileksasi
Rileksasi, santai atau tidak ada ketegangan adalah pengendoran otot-otot dalam rangka menghilangkan segala macam ketegangan. Rileksasi dapat dikondisikan dengan cara menciptakan suasana santai yang bebas dari kebisingan dan keramaian serta bebas dari segala hambatan. Rileksasi perlu dilakukan secara kontinu dengan memilih waktu dan tempat yang mendukung. Dapat diprogramkan misalnya seminggu sekali.
b. Postur Tubuh
Anak tunanetra perlu diberi pembinaan latihan postur tubuh yang baik. Perlu diinformasikan kepada tunanetra pentingnya postur tubuh yang baik bagi penampilan dan pergaulan serta interaksi sosial. Jika postur tubuh yang baik tidak diinformasikan kepada tunanetra, mungkin mereka akan beranggapan bahwa orang lain di luar dirinya kalau berjalan kepalanya miring, perut ke depan, dsb. Pembinaan ini perlu dilakukan secara kontinu dan melibatkan semua orang yang ada di lingkungan tunanetra di mana mereka berada.
c. Keseimbangan
Kehilangan penglihatan dapat berdampak kepada tidak adanya keseimbangan. Sehingga tunanetra goyah dalam berjalan, kaki seperti ada per-nya, jalannya kaku, kaki dan tangan kaku, tidak luwes, serasi dan harmonis. Oleh karena itu tunanetra perlu dilatih keseimbangan secara kontinu.
d. Gerakan Non Lokomotor
Gerakan non lokomotor adalah gerakan anggota tubuh dengan tidak berpindah tempat.
Jenis-jenis gerakan yang dapat dilatihkan antara lain:
a. Gerakan persendian;
b. Gerakan berputar;
c. Mengkondisikan gerakan: lentur, bervariasi, ada tempo, keseimbangan, posisi tubuh dengan lingkungan, gerakan membuka dan menutup, ukuran gerak, bentuk gerakan dan menyadari gerakan tersebut.
e. Gerakan Lokomotor
Yaitu gerakan anggota tubuh dengan berpindah tempat. Latihan yang disarankan antara lain: rileks, bervariasi, ada tempo, arah, tempat bergerak, berjalan secara pelan-pelan, mengatur jarak gerak, dan kesadaran bergerak. Apabila semua itu dapat dilakukan maka akan terjadi irama gerak yang serasi dan luwes. Gerakan lokomotor ini perlu dilatihkan kepada tunanetra dengan terjadwal, diulang-ulang, melakukan, dan berkelanjutan.
f. Gerakan Akrobatik dan Senam
Gerakan-gerakan akrobatik dan senam perlu dilatihkan kepada tunanetra. Misalnya: menendang bola, memukul gamelan, berenang, melompat, dsb.
3. Aktifitas Pengembangan Mobilitas
Gerakan tubuh yang baik dapat diperoleh melalui pembinaan dan latihan yang terarah. Kegiatan berikut ini merupakan aktifitas pengembangan gerakan tubuh yang baik yang dapat dilakukan, antara lain:
1) Mengembangkan gerakan:
keseimbangan, koordinasi gerakan antar anggota tubuh, keluwesan gerak (fleksibilitas), dan kekuatan.
2) Pola-pola Gerak Lokomotor dasar:
a) berjalan,
b) pemindahan tumpuan berat badan dari kaki ke kaki yang lain seraya lengan diayunkan ke arah yang berlawanan;
c) berlari (lebih cepat dari berjalan) kedua kaki ada saat melayang dari tumpuan tanah;
d) melompat atau jingkrak, melompat dengan satu kaki dan jatuh pada kaki yang sama;
e) Melompat dengan kedua kaki dan jatuh pada kedua kaki;
f) langkah lompat, sama dengan berlari tetapi dengan sebuah kaki terangkat lebih tinggi dan mencapai jarak yang lebih jauh, sehingga tubuh terangkat pada setiap langkah;
g) Langkah kuda, yaitu berjalan atau berlari tetapi dengan sebuah kaki yang sama tetap di depan, kaki yang di belakang ikut melangkah, posisi tubuh terangkat tetapi kaki belakang tidak melewati kaki depan;
h) jingkrak lompat, yaitu berjingkrak dengan satu kaki, kemudian melangkah dengan kaki yang lainnya;
i) langkah kuda ke samping, yaitu sama dengan langkah kuda tetapi gerakan ke samping.
3) Membantu pemahaman kesadaran gerak.
4) Mengembangkan konsep tentang gambaran tubuh.
5) Mengembangkan persepsi kinestetis.
6) Mengembangkan ekspresi gerakan bebas dan eksplorasi terhadap berbagai gerakan yang dapat dilakukan.
7) Aktifitas yang dianjurkan lainnya:
a. Berguling:
lengan rapat di sisi kiri dan kanan tunanetra, tubuh kaku, dan bisa berguling disepanjang tikar.
b. Jalan kepiting:
posisi duduk, ke dua tangan di lantai, berat badan pada kaki dan tangan, bergerak ke depan, ke belakang, ke samping, badan jangan sampai terseret ke lantai.
c. Jalan beruang:
tangan di lantai, kepala-lengan-dan kaki kaku. Bergerak mula-mula kaki kanan dan tangan kanan, kemudian kaki kiri dan tangan kiri.
d. Jalan bebek:
jongkok, letakkan tangan pada lutut, dan berjalan sambil mengeluarkan suara bebek.
e. Matahari terbit:
posisi telentang, kemudian bangkit dan duduk dengan menggunakan tangan sebagai alat keseimbangan. Variasi gerak dilakukan dengan kedua tangan dilipat di dada.
f. Sang bangau 1:
berdiri di atas satu kaki, pegang kaki dan diangkat ke belakang tubuh, melompat beberapa langkah ke depan kemudian ke belakang. Tangan yang bebas digunakan sebagai alat keseimbangan.
g. Sang bangau 2:
berdiri di atas satu kaki, kaki lurus, angkat lengan setinggi bahu, melompat-lompat berkeliling ke kiri dan ke kanan.
h. Gerakan naik-turun:
kaki direntangkan-tangan di pinggang, secara perlahan lutut dibengkokkan dalam-dalam, punggung lurus tetap keadaan rata, kemudian berdiri.
i. Anjing laut merangkak:
tangan di lantai, bahu dilebarkan, kaki diluruskan ke belakang dan berat badan pada tangan dan ujung jari kaki.
j. Gasing:
dari posisi berdiri dan tangan rapat di sisi. Kemudian melompat ke depan, ke atas, dan meliuk sampai melihat/menghadap ke belakang, meliuk dan berputar ¾ lingkaran, kemudian berputar 360 derajat sampai kembali ke posisi semula. Gerakan dinilai berhasil jika badan jatuh tegak dengan keseimbangan yang baik dan posisi tangan dekat sisi tubuh, berputarlah ke kanan dan ke kiri.
k. Gergaji balok:
dua orang berdiri berhadapan berpegangan tangan, seorang jongkok dalam-dalam dan yang lainnya tetap berdiri, kemudian bergantian dengan diiringi irama.
l. Gilingan tebu
m. Ulat
n. Loncat kodok
o. Pompa
p. Peras kain
q. Saling tarik
r. Saling tolak belakang , Dll.
Hal-hal yang perlu diperhatikan ketika melaksanakan kegiatan:
1. Kegiatan dapat dimulai dari yang mudah ke yang lebih sulit. Kemajuan adalah dasar dari keberhasilan.
2. Memperhatikan dan mengutamakan keselamatan.
3. Setiap latihan dimulai dengan pemanasan.
4. Menumbuh kembangkan kepercayaan diri dan semangat untuk berlatih.
5. Jangan tergesa-gesa dalam melakukan kegiatan tersebut, kembangkan kontrol diri dan keseimbangan serta keserasian gerak.
6. Memerlukan layanan secara individual dalam kegiatan kelompok.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Seseorang dikatakan Tunantra Total jika mengalami hambatan visual yang sangat berat atau tidak dapat melihat sama sekali. Sering kali, untuk dapat melakukan kegiatan kehidupannya sehari-hari secara mandiri, orang tunanetra harus menggunakan teknik alternatif, yaitu teknik yang memanfaatkan indera-indera lain untuk menggantikan fungsi indera penglihatan dalam kegiatan kehidupannya sehari-hari sehingga pola kehidupan kesehariannya pun sangat berubah dan dalam banyak hal menjadi berbeda dari orang pada umumnya.
A. Penanganan Tunanetra Total dari Segi Pendapatan Informasi
Komputer Berbicara, Huruf Braille, Digital Ascesible System (DAISY) Player, Buku bicara (Digital Talking Book), Printer Braille, Termoform, dan lain-lain.
B. Penanganan Tunanetra Total dari Segi Mobilitas
Adanya ketunanetraan pada seseorang, secara otomatis ia akan mengalami keterbatasan. Keterbatasan itu adalah dalam hal:
(1) memperolah informasi dan pengalaman baru,
(2) dalam interaksi dengan lingkungan, dan
(3) dalam bergerak serta berpindah tempat (mobilitas).
Oleh karena itu, dalam perkembangannya seorang anak tunanetra mengalami hambatan atau sedikit terbelakang mobilitasnya bila dibandingkan dengan anak normal yang awas.
1. Program Pembinaan Gerakan Tubuh
Rileksasi, Postur Tubuh, Keseimbangan, Gerakan Non Lokomotor, Gerakan Lokomotor, Gerakan Akrobatik dan Senam
2. Aktifitas Pengembangan Mobilitas
Saran
Manfaat dan saran :
1. Untuk sekolah
Untuk meningkatkan keberhasilan proses pelajaran adaftip disekolah. Maka diperlukan sebagai berikut :
a. Menyediakan perlengkapan untuk pelajaran olahraga yang telah dimodifikasi.
b. Menyediakan alat dan sumber belajar yang cukup.
c. Menyelenggarakan atau mengirimkan guru dalam pelatihan secara berkala sehingga dapat meningkatkan kompetensi guru yang di harapkan.
2. Untuk guru
a. Guru mengembangkan kemampuan untuk mengikuti latihan pendidikan jasmani.
b. Guru harus kreatif mencari metode atau melakukan strategi yang afektif untuk melakukan pembaharuan dalam melayani siswa misalnya dengan memodifikasi perlengkapan olahraga yang tersedia atau memanfaatkan lingkungan.
c. Guru harus mempunyai keinginan untuk menambah wawasan sebagai upaya pendalaman materi.
3. Untuk orang tua
a. Orang tua harus mencari wawasan untuk anak tunanetra dan cara penanganannya, agar dapat melayani di rumah.
b. Orang tua harus memberi dukungan pada sekolah agar terlaksana proses pembelajaran yang di harapkan.
Daftar Pustaka
http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._PEND._LUAR_BIASA/195101211985031-IRHAM_HOSNI/KONSEP_DASAR_BIMBINGAN_JASMANI_ADAPTIF_TUNANETRA.pdf
http://gicara.com/uncategorized/digital-talking-books.html
http://pertuni.idp-europe.org/Artikel-Makalah/komputer.php
http://repository.upi.edu/operator/upload/s_plb_0705146-chapter2.pdf
http://repository.upi.edu/operator/upload/s_plb_0705146-chapter4.pdf
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/28202/8/Chapter%20II.pdf
http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/pengabdian/ishartiwi-mpd-dr/makalah-tunanetra-yakkum.pdf
ALAT OPTIK DAN KEGUNAANNYA ( bagi anak tunanetra )
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Tersedianya banyak alat bantu low vision memberi para praktisi dalam bidang low vision berbagai opsi untuk membantu anak-anak yang menyandang ketunanetraan. Seyogyanya tidak akan dijumpai suatu kondisi di mana anak low vision tidak dapat dibantu dengan suatu bentuk alat bantu low vision yang sesuai dengan kebutuhan pendidikannya. Bentuklah sebuah tim pembina penglihatan, yang keanggotaannya mencakup seorang optometris, guru spesialis tunanetra, petugas rehabilitasi dan orang tua anak, perlu mengadakan pertemuan konsultasi bersama anak untuk menentukan bentuk alat bantu low vision yang paling sesuai dengan kebutuhan individu anak itu. Pentingnya asesmen oleh seorang optometris yang berkualifikasi tidak dapat terlalu ditekankan, karena kaca mata dengan resep yang tepat hanya merupakan langkah awal dari penanganan low vision. Optometris, yang memiliki pengetahuan luas tentang proses penyakit tertentu yang mengakibatkan ketunanetraan itu, dapat melakukan pemeriksaan refraksi dan melakukan asesmen serta memberi advis sehubungan dengan masalah low vision yang dihadapi anak.
Bagi banyak anak, sebuah alat bantu low vision dapat merupakan alat yang serba guna. Akan tetapi, bagi kasus-kasus tertentu, alat-alat ini mungkin terbatas atau spesifik kegunaannya, dan tidak ada pendekatan yang standar ataupun cara pemecahan yang seragam, karena setiap anak memiliki kebutuhan visual yang berbeda.
1.2 Rumusan Masalah.
1.2.1 Apa pengertian Low Vision ?
1.2.2 Apa saja kah Alat-alat Optik serta cara penggunaanya ?
1.3 Tujuan Masalah
1.3.1 Untuk mengetahui pengertian Low Vision.
1.3.2 Untuk mengetahui Alat-alat Optik dan cara penggunaanya.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Low Vision.
Istilah low vision mungkin kurang dikenal dikalangan masyarakat. Bila diartikan ke dalam bahasa Indonesia, low berarti rendah dan vision artinya penglihatan. Mungkin sekedar sebatas itu saja masyarakat memahami pengertian low vision. Kebanyakan orang tidak mengetahui bahwa sebenarnya istilah low vision memang diberikan untuk orang-orang yang mengalami keterbatasan penglihatan.
Jadi istilah low vision digunakan untuk membedakan antara orang yang tidak dapat melihat (buta) dengan orang yang mengalami gangguan penglihatan. Low vision merupakan bagian dari kebutaan. Tetapi istilah low vision diberikan kepada orang yang memiliki lemah daya penglihatan namun masih dapat melihat meskipun terbatasLow vision bisa digolongkan sebagai ketunanetraan, tetapi tunanetra tidak dapat disebut low vision. Tidak semua yang mengalami gangguan penglihatan dapat disebut low vision.
Low Vision adalah rusaknya fungsi penglihatan yang tidak dapat dikembalikan seperti keadaan semula meskipun melalui penanganan medis, seperti operasi, penggunaan obat-obatan, dan tidak dapat dikoreksi secara refraktif dengan kacamata ataupun lensa kontak. Tetapi Low Vision masih mempunyai sisa penglihatan yang dapat digunakan untuk melakukan kegiatan sehari-hari seperti; mampu berjalan tanpa bantuan tongkat, meskipun mengalami berbagai hambatan dan kesulitan, misalnya saat menyeberang atau menghentikan kendaraan umum, mereka juga dapat membaca huruf latin dengan bantuan kaca pembesar (magnifying glass) dan CCTV (Closed Circuit Television), menonton TV dapat dilakukan meskipun tidak senyaman orang awas , karena hanya dapat dilakukan dari jarak yang sangat dekat dan aktivitas lainnnya. Meskipun terbatas, Low Vision bukan berarti buta, tetapi tidak pula dapat dikatakan normal.
Saat ini di seluruh dunia, menurut data WHO sebanyak 45 juta orang mengalami kebutaan. Sedangkan di Indonesia, lebih dari 3 juta orang. masih banyak masyarakat yang belum mengetahui cara memelihara kesehatan mata mereka, dan mengenali gejala awal gangguan penglihatan, sehingga pada akhirnya dapat berakibat fatal dikemudian hari.
2.2 Alat-alat Optik dan Kegunaannya.
A. Kacamata Pembesar.
Kacamata pembesar lebih kuat dari gelas biasa. Bila Anda menggunakannya, Anda perlu mengadakan bahan bacaan Anda sangat dekat, jika tidak cetak tidak fokus. Ini mungkin merasa canggung pada awalnya, tetapi Anda akan menjadi terbiasa. Mereka dirancang untuk bekerja dekat, sehingga kacamata pembesar meninggalkan kedua tangan bebas untuk memegang bahan bacaan. lebih kuat daripada kacamata biasa serta membantu penderita melakukan kegiatan yang berdekatan dengan mata seperti membaca, menulis, dll. Sementara kacamata ini dikenakan, penderita harus memegang materi yang dibaca dari jarak sangat dekat agar benda atau tulisan lebih terfokus. Awalnya mungkin akan terasa janggal, tapi kemudian akan terbiasa. Alat ini dirancang untuk melihat pekerjaan yang berdekatan dengan mata. Materi yang akan dibaca dapat dipegang bebas oleh tangan. Bingkainya ada yang penuh, ada yang setengah.
B. Stand Magnifier.
Seperti halnya alat magnifikasi genggam, alat magnifikasi berdiri ini mudah didapat. Lebih perlu diperhatikan adalah satu pertanyaan yang sering diajukan: "Apakah anak tunanetra sebaiknya memakai kaca mata jauhnya atau kaca mata bacanya bila menggunakan alat magnifikasi ini?" Jawabannya sederhana. Sebagai patokan, jika lensa +4,00 D diletakkan di atas alat magnifikasi itu dan citra yang dihasilkan melalui sistem gabungan ini tetap terfokus, maka anak itu harus menggunakan kaca mata bacanya. Jika citra itu tampak kabur, maka jarak bacanya harus dikoreksi.
Pada jenis yang berdaya tinggi, alat magnifikasi ini biasanya dilengkapi dengan lampu sehingga permukaan bahan bacaan menjadi terang. Untuk tingkat magnifikasi yang tinggi seperti ini, dibutuhkan banyak cahaya, dan alat magnifikasi itu mungkin menggunakan tenaga listrik, baterai atau gabungan keduanya. Disarankan agar digunakan tenaga listrik karena baterai cepat sekali habisnya.
Stand Magnifier (kaca pembesar dengan kaki) penggunaannya untuk :
a. Membaca surat kabar atau buku.
b. Melihat diagram atau gambar.
Kelebihan:
a. Memiliki jarak yang tetap untuk setiap gerakan.
b. Mudah dipakai.
c. Tersedia dari kekuatan rendah sampai tinggi.
d. Memungkinkan sinar mengenai tulisan jika kaki-kaki kecil dan sempit.
e. Dapat memakai alat bantu lain.
Kekurangan:
a. Memerlukan tangan untuk memegangnya.
b. Tidak terpakai untuk suatu aktivitas, seperti menulis.
c. Tidak kelihatan normal.
d. Harganya mahal.
e. Perlu penyangga buku.
C. Hand Magnifier.
Ini merupakan bentuk alat bantu low vision yang paling sederhana dan paling banyak dipergunakan. Kita perlu sangat berhati-hati dengan kaca pembesar ini karena tingkat magnifikasi yang dinyatakan pada alat ini mungkin tidak sesuai dengan yang dibutuhkan anak. Sebabnya adalah bahwa para produsen alat magnifikasi menggunakan formula yang berbeda-beda untuk menghitung tingkat magnifikasi bagi produknya.
Hand Magnifier (kaca pembesar yang dipegang) penggunaannya untuk:
a. Membaca tanda, label, harga buku.
b. Mengenali uang.
c. Mengamati benda seperti tanaman atau serangga.
d. Menulis.
Kelebihan:
a. Mudah dibawa.
b. Tersedia kekuatan rendah sampai tinggi
c. Murah.
d. Dapat dipakai pada posisi dan sudut apapun.
e. Memungkinkan memantulkan sinar ke tulisan atau benda.
Kekurangan:
a. Sulit untuk menentukan jarak yang sesua.
b. Memerlukan tangan untuk memegangnya.
c. Sulit dipegang dengan tetapd. Sulit untuk menulis.
d. Jarak baca dapat berubah-ubah
D. CCTV (Closed Circuit Television).
Konsep CCTV adalah sederhana. Sebuah kamera video digunakan secara real time untuk menangkap gambar dari bahan bacaan dan menampilkannya pada monitor. Sebagai contoh, kontras miskin cetak surat kabar dapat diperbesar 40X, tetapi sekaligus dapat dikonversi ke huruf putih pada latar belakang hitam. Evaluasi CCTV harus mencakup pengujian dengan item dunia nyata termasuk surat kabar, buku telepon, tagihan listrik, amplop ditujukan, surat tulisan tangan, kartu ucapan, majalah, buku cek, foto, kaleng makanan, botol obat, kuku pasien , formulir pajak, buku alamat, resep, dan perhiasan. Mengisi jarum suntik insulin atau melakukan glucometry harus menunjukkan untuk diabetes tergantung insulin. Preferensi untuk ukuran gambar, jenis kontras, warna dan kemampuan untuk mengoperasikan sistem harus ditentukan. Gerak masalah dari gambar bergerak pada layar dapat dikurangi dengan monitor yang lebih besar yang memungkinkan menampilkan teks lebih pada satu waktu.
CCTV kini cenderung dipergunakan untuk anak-anak yang menyandang ketunanetraan yang lebih berat yang membutuhkan tingkat magnifikasi yang lebih tinggi daripada yang dapat diperoleh dari alat optik. CCTV terdiri dari sebuah kamera televisi yang diletakkan di atas sebuah meja X Y yang dapat dipindah-pindahkan dan dihubungkan ke monitor tayangan video. Pada umumnya kamera itu terpaku, menunjuk ke bawah ke arah penyimpan bahan bacaan, sehingga bahan bacaan harus diletakkan tepat di bawah lensa kamera. Penyimpan bahan bacaan itu tidak dapat diatur ketinggiannya sehingga magnifikasi hanya dapat diperoleh secara elektronik atau dengan menggunakan "zoom camera". Magnifikasi berkisar dari 2x hingga 100x. Sebaiknya menggunakan monitor berkualitas baik yang frekuensi kerdipannya lebih besar dari 50 Hertz (Hz), karena ini dapat menghilangkan kedipan listrik yang mengurangi ketajaman penglihatan pada penyandang low vision. Sistem modern dibuat dengan frekuensi kerdipan di atas 60 Hz.
CCTV tersedia dalam versi monokrom (hitam-putih) ataupun warna. Penggunaan CCTV warna untuk anak-anak pengidap disfungsi macula patut dipertanyakan karena sistem yang hitam-putih biasanya akan memberikan hasil yang lebih baik. Dua opsi yang tersedia pada CCTV monokrom adalah menayangkan tulisan hitam pada latar putih atau menggunakan sistem negatif untuk menayangkan tulisan putih pada latar hitam. Telah ditemukan bahwa menggunakan tulisan putih pada latar hitam lebih nyaman dan memberikan ketajaman yang lebih baik bagi mereka yang mengidap retinitis pigmentosa.
Kelebihan dari sistem CCTV adalah kemampuannya untuk memvariasikan iluminasinya dan kekontrasan citra yang dihasilkannya. Seorang anak tunanetra sering lebih menyukai kekontrasan yang lebih tinggi daripada yang terdapat pada dokumen aslinya. Pengalaman telah menunjukkan bahwa anak yang mengidap kondisi macula degeneratif dan mereka yang kehilangan kebeningan pada media optiknya membutuhkan cahaya yang lebih terang dan kekontrasan yang lebih tinggi.Sistem CCTV yang lebih kompleks mungkin menyediakan beberapa fitur tambahan. Sistem ini mungkin dapat dihubungkan ke mesin tik atau komputer. Sebuah kamera jarak jauh mungkin juga tersedia, sehingga papan tulis maupun bahan bacaan dapat terbaca. Dalam hal ini, CCTV itu perlu dilengkapi dengan layar monitor yang dapat terbagi sehingga tulisan jarak jauh dapat terlihat pada satu sisi layar itu dan bahan bacaan ditayangkan pada sisi lainnya. Juga memungkinkan untuk "menutupi" bagian-bagian tertentu dari layarnya so that sehingga hanya satu baris tulisan saja yang terlihat. Dalam mode hitam-putih, bagian layar yang tertutupi itu tampak hitam, dan dalam mode putih-hitam bagian yang tertutupi itu tampil putih. Terdapat juga fasilitas untuk menggarisbawahi teks. Tentu saja banyak masalah yang terkait dengan sistem CCTV dibandingkan dengan alat-alat optik yang sederhana. CCTV lebih mahal dan tidak mudah dibawa-bawa. Untuk mengatasi hal yang kedua tersebut, dalam beberapa tahun terakhir ini telah diperkenalkan kamera genggam seperti mouse komputer yang dapat dihubungkan ke pesawat televisi biasa (lihat Gambar 7.12). Kisaran magnifikasinya bervariasi, tergantung pada besarnya layar, tetapi dengan layar datar modern yang lebih besar, magnifikasinya dapat mencapai 25x. Semua sistem dengan model genggam ini kini hanya tersedia dengan tayangan hitam-putih; akan tetapi, sistem warna pun akan tersedia dalam waktu dekat ini. Penggunaan CCTV dengan Kombinasi Alat-alat Lain Alat-alat bantu low vision lainnya dapat dipergunakan dengan CCTV. Misalnya, alat magnifikasi garis yang dipasang pada kedua tepi layar monitor dapat merupakan cara yang efektif untuk meningkatkan magnifikasi dari CCTV. Selain itu, sebuah alat magnifikasi genggam dapat diberi standar yang fleksibel seperti standar lampu baca, sehingga dengan mudah dapat didorong ke depan layar dan ditarik kembali jika tidak diperlukan. Satu cara lain untuk meningkatkan magnifikasi CCTV adalah dengan menghubungkannya ke sistem komputer, dan untuk ini diperlukan perangkat lunak khusus.
E. Teleskop.
Teleskop dapat membantu orang dengan low vision memperbaiki penglihatan jarak. Jarak pandang yang mencakup melihat papan tulis di ruang kelas, melihat papan menu di sebuah restoran cepat saji, atau melihat panggung di konser atau tindakan di sebuah acara olahraga.
Teleskop alat ini hanya digunakan untuk membesarkan benda dari jarak jauh, misalnya untuk melihat tanda-tanda di jalanan. Mungkin lebih berguna bagi penderita daya penglihatan rendah yang lensa minusnya atau kelainan rabun jauhnya sudah parah. Namun teleskop, dengan beberapa modifikasi, ada yang bisa dipasang pada kacamata.
Cara yang paling sederhana dan praktis untuk meningkatkan ketepatan penglihatan jauh pada anak-anak tunanetra adalah dengan memperkecil jarak antara mata dan obyek yang ingin dilihatnya. Dengan memperkecil jarak pandang dengan setengahnya, besarnya citra pada retina otomatis berlipat dua, tetapi kualitas citranya tidak terganggu. Permasalahan timbul jika jarak pandang dari mata ke obyek pandang itu tidak dapat diubah. Dalam hal seperti ini, alat bantu low vision teleskopik merupakan cara yang tepat untuk meningkatkan ketepatan penglihatan jauh itu. Teleskop ada yang dirancang untuk fokus tertentu dan ada pula yang dirancang untuk fokus yang dapat diubah-ubah, dan dapat dipergunakan dengan kaca mata ataupun tanpa kaca mata.
Teleskop dengan Fokus Yang Dapat Diubah-ubah (Variable Focus Telescopes)
Alat magnifikasi jenis ini dapat diubah-ubah jaraknya antara lensa obyektif dan lensa matanya, sehingga kisaran fokusnya luas. Lensa-lensanya tersimpan dalam bingkai pelindung dari logam sehingga terhindar dari kerusakan oleh debu. Dengan memutar pelindung logamnya, teleskop ini berubah fokusnya dari jauh ke dekat. Contoh teleskop dengan fokus yang dapat diubah-ubah ini antara lain adalah Eschenbach, teleskop monokuler untuk fokus pendek, dan teleskop monokuler Keeler 8x. Alat magnifikasi teleskopik Keeler itu terutama bagus karena dilapisi karet pelindung sehingga sangat tercegah dari kerusakan akibat benturan.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Low Vision adalah rusaknya fungsi penglihatan yang tidak dapat dikembalikan seperti keadaan semula meskipun melalui penanganan medis, seperti operasi, penggunaan obat-obatan, dan tidak dapat dikoreksi secara refraktif dengan kacamata ataupun lensa kontak. Tetapi Low Vision masih mempunyai sisa penglihatan yang dapat digunakan untuk melakukan kegiatan sehari-hari seperti; mampu berjalan tanpa bantuan tongkat, meskipun mengalami berbagai hambatan dan kesulitan.
Alat-alat Optik yang digunakan yakni Kacamata pembesar lebih kuat dari gelas biasa. Mereka dirancang untuk bekerja dekat, sehingga kacamata pembesar meninggalkan kedua tangan bebas untuk memegang bahan bacaan. Stand Magnifier Seperti halnya alat magnifikasi genggam, alat magnifikasi berdiri ini mudah didapat. Hand Magnifier Ini merupakan bentuk alat bantu low vision yang paling sederhana dan paling banyak dipergunakan. Kita perlu sangat berhati-hati dengan kaca pembesar ini karena tingkat magnifikasi yang dinyatakan pada alat ini mungkin tidak sesuai dengan yang dibutuhkan anak. Konsep CCTV adalah sederhana. Sebuah kamera video digunakan secara real time untuk menangkap gambar dari bahan bacaan dan menampilkannya pada monitor.
Teleskop dapat membantu orang dengan low vision memperbaiki penglihatan jarak. Jarak pandang yang mencakup melihat papan tulis di ruang kelas, melihat papan menu di sebuah restoran cepat saji, atau melihat panggung di konser atau tindakan di sebuah acara olahraga.
DAFTAR PUSTAKA
Review Didi Tarsidi Conseling and Blindness ( http://d-tarsidi.blogspot.com) 16 Maret 2012
Review Low Vision (http://translate.google.co.id/ low-vision.htm) 16 Maret 2012
Review Apa itu low vision (http://bisa-foundation.or.id/2011/06/apa-itu-low-vision/) 16 Maret 2012.
Review Low Vision Scribd (http://www.scribd.com/doc/49851653/low-vision) 16 Maret 2012.
Review Tiba-tiba ia tak jelas membaca (http://dunia-kesehatan.com/tiba-tiba-ia-tak-jelas-membaca&catid=39:umum) 16 Maret 2012
Review Low Vision (http://translate.google.co.id/tlow-vision-aids.html) 16 Maret 2012.
Review Low Vision Introduction (http://translate.google.co.id/translate. Low_vision_re.htm) 16 Maret 2012.
Langganan:
Postingan (Atom)